Rabu, 24 November 2021

Nasab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam

Nama Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam Nasab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam Nasab Rasulullah Nasab beliau tersebut adalah nasab yang baik, dari awal hingga akhirnya, tidak ada sedikitpun terdapat kebejatan padanya. Sebagaimana diriwayatkan secara mursal dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam : “Aku lahir dari pernikahan dan tidaklah Aku dilahirkan dari perzinaan. Mulai dari Nabi Adam sampai pada ayah ibuku. Tidak ada kebejatan Jahiliyah sedikitpun dalam nasabku” (HR. Ath Thabrani) Oleh karena itulah kita katakan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam lahir dari nasab terbaik. Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Aku diutus dari keturunan bani Adam yang terbaik pada setiap kurunnya, hingga sampai pada kurun dimana aku dilahirkan” (HR. Bukhari) Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda: “Allah telah memilih Kinanah dari keturunan Isma’il, dan memilih Quraisy dari keturunan Kinanah, dan memilih Bani Hasyim dari keturunan Quraisy, dan memilih aku dari keturunan Bani Hasyim” (HR. Muslim 2276) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah telah memilih Isma’il dari anak keturunan Ibrahim, memilih Kinanah dari anak keturunan Isma’il, memilih Quraisy dari anak keturunan Bani Kinanah, memilih Bani Hasyim dari keturunan Quraisy dan memilihku dari keturuan Bani Hasyim. “.(H.R. Muslim dan at-Turmudzy). Dari al-’Abbas bin Abdul Muththalib, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk, lalu Dia menjadikanku dan sebaik-baik golongan mereka dan sebaik-baik dua golongan, kemudian memilih beberapa kabilah, lalu menjadikanku diantara sebaik-baik kabilah, kemudian memilih beberapa keluarga Ialu menjadikanku diantara sebaik-baik keluarga mereka, maka aku adalah sebaik-baik jiwa diantara mereka dan sebaik-baik keluarga diantara mereka”. (Diriwayatkan oleh at-Turmudzy). Klasifikasi Nasab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam Nasab Nabi terbagi ke dalam tiga klasifikasi. Klasifikasi pertama, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib (nama aslinya; Syaibah) bin Hasyim (nama aslinya, Amr) bin Abdul Manaf (nama aslinya, Al Mughirah) bin Qushay (nama aslinya, Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr (julukannya adalah Quraisy yang kemudian suku ini dinisbatkan kepadanya) bin Malik bin Nadhar (nama aslinya, Qais) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah (nama aslinya, Amir) bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan. Klasifikasi kedua, (dari urutan nasab di atas hingga ke atas Adnan) yaitu, Adnan bin Adad bin Humaisa bin Salaman bin Iwadh bin Buz bin Qimwal bin Abi Awwam bin Nasyid bin Hiza bin Buldas bin Yadlaaf bin Thabikh bin Jahim bin Nahisy bin Makhi bin Idh bin Abqar bin Ubaid bin Di’a bin Hamdan bin Sunbur bin Yatsribi bin Yahzan bin Yalhan bin Ar’awi bin Idh bin Disyan bin Aishar bin Afnad bin Ayham bin Miqshar bin Nahits bin Zarih bin Sumay bin Mizzi bin Udhah bin Uram bin Qaidar bin Isma’il bin Ibrahim. Klasifikasi ketiga, (dari urutan nasab kedua klasifikasi di atas hingga keatas Nabi Ibrahim) yaitu, Ibrahim bin Târih (namanya, Azar) bin Nahur bin Saru’ atau Sarugh bin Ra’uw bin Falikh bin Abir bin Syalikh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh bin Laamik bin Mutwisylakh bin Akhnukh (ada yang mengatakan bahwa dia adalah Nabi Idris) bin Yarid bin Mahlail bin Qainan bin Anusyah bin Syits bin Adam. Nama dan Kunyah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam Pemberian Nama Muhammad Pada hari ketujuh kelahiran Muhammad, Abd'l-Muttalib minta disembelihkan unta. Hal ini kemudian dilakukan dengan mengundang makan masyarakat Quraisy. Setelah mereka mengetahui bahwa anak itu diberi nama Muhammad, mereka bertanya-tanya mengapa ia tidak suka memakai nama nenek moyang. "Kuinginkan dia akan menjadi orang yang Terpuji, bagi Tuhan di langit dan bagi makhlukNya di bumi," jawab Abd'l Muttalib. (Siroh Muhammad Husain Haikal) Nama-Nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki beberapa nama, yaitu : Muhammad, Ahmad, Al Mahi, Al ‘Aqib, Al Hasyir, Al Muqaffi, Nabiyyur Rahmah, Nabiyyut Taubah, Khataman Nabiyyin dan Abdullah. Dalilnya, Allah Ta’ala berfirman, “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. Al Ahzab: 40) Allah Ta’ala juga berfirman: “Dan bahwasanya tatkala Abdullah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadah), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya” (QS. Al Jin: 19) Hadits Jabir bin Math’am, “Aku memiliki beberapa nama: Muhammad, Ahmad, Al Mahi (penghapus) karena denganku Allah menghapus kekufuran, Al Hasyir karena manusia di kumpulkan di atas telapak kakiku, dan Al ‘Aqib” (HR. Bukhari 4896, Muslim 2354) Juga hadits Abu Musa Al ‘Asy-ari, “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memberitahu kepada kami nama-nama beliau. Beliau bersabda: ‘Aku Muhammad, Ahmad, Al Muqaffi, Al Hasyir, Nabiyyur Rahmah, Nabiyyut Taubah‘” (HR. Muslim 2355). Ini adalah nama-nama beliau yang ditunjukkan secara sharih (lugas) oleh dalil-dalil. Namun banyak diantara para ulama juga menambahkan nama-nama lain untuk beliau, yang diambil dari setiap sifat yang dinisbatkan kepada beliau. Sebagaimana perkataan Imam Al Baihaqi : “Sebagian ulama menambahkan, mereka mengatakan bahwa Allah telah menyebut beliau dengan sebutan : Rasul, Nabi, Ummiy, Syaahid, Mubasyir, Da’i ilallah bi idznihi, Sirajun Munir, Ra’ufur Rahim, Mudzakkir. Allah juga menjadikannya sebagai Rahmah, Ni’mah, dan Haadi“ Dan sebenarnya masih banyak lagi sifat-sifat beliau jika kita ingin memasukkannya ke dalam deretan nama beliau, diantaranya ash shadiq, al mashduq, sayyidu waladi adam, sayyidul mursalin, al amin, al musthafa, dan banyak lagi. Oleh karena itu para ulama berselisih pendapat mengenai jumlah nama beliau. Adapun pendapat sebagian ulama bahwa Yaasin dan Thaha adalah termasuk nama beliau, ini dilandasi oleh sebuah riwayat: “Di sisi Rabb-ku Azza Wa Jall aku memiliki 10 nama (Abu Thufail -rawi hadits- mengatakan, aku hanya hafal 8) yaitu, Muhammad, Ahmad, Abul Qasim, Al Fatih, Al Khatam, Al Mahi, Al ‘Aqib, Al Hasyir. Abu Yahya At Taimi berkata: Saif (bin Wahb) mengklaim bahwa Abu Ja’far berkata kepadanya: ‘Dua nama yang tersisa adalah Thaha dan Yasin’” (Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Al Ajurri dalam kitab Asy Syari’ah no.1015) (Shahih Sirah Nabawiyah, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani) Arti Nama Rasulullah Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidakkah kalian takjub (kagum) bagaimana Allah menyelamatkan aku dari caci maki Quraisy dan laknat mereka?. Mereka biasa mencaci maki orang yang tercela dan melaknat orang yang tercela sedangkan aku adalah Muhammad (orang yang dipuji) ". (HR. Bukhari) Larangan Memberi Nama Dengan Julukan Rasulullah Dari Anas radliallahu 'anhu berkata;Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah berada di suatu pasar tiba-tiba ada orang yang berkata (kepada orang lain); "Wahai Abu Al Qasim". Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menoleh lalu bersabda: "Berilah nama dengan namaku tapi jangan kalian menggunakan nama dengan nama kuniyahku (gelar/panggilan) ".(HR. Bukhari) Dari Jabir bin Abdullah RA, dia berkata, "Pada suatu ketika, seseorang di antara kami ada yang mempunyai anak. Lalu ia memberinya nama Muhammad. Tetapi, orang-orang berkata kepadanya, 'Kami tidak akan membiarkanmu memberi nama dengan nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.' Kemudian, orang tersebut pergi menggendong anaknya di atas punggung untuk menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Sesampainya di hadapan beliau, ia pun berkata, "Ya Rasulullah, anak saya telah lahir. Lalu saya memberinya nama Muhammad. Tetapi, masyarakat sekitar saya berkata, 'Kami tidak akan membiarkanmu untuk memberi nama dengan nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.' Rasulullah menjawab, "Sebenarnya kalian boleh memberikan nama dengan nama seperti namaku. Tetapi, janganlah kalian memberinya julukan dengan julukanku. Karena aku adalah Qasim {orang yang membagi) dan aku akan membagi di antara kalian." (HR. Muslim) Memberikan Nama Yang Baik Dari Sa'id bin Musayyib, dari bapaknya, dari kakeknya, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah bertanya pada kakeknya, "Apa namamu?" Ia menjawab, "Hazn (sedih)." Beliau bersabda, "Engkau adalah Sahl (kemudahan)." Ia berkata lagi, "Tidak, Sahl itu terinjak-injak dan terhina." Kemudian Sa'id berkata, "Aku menduga sejak saat itu kami akan selalu dirundung sedih." Abu Daud berkata, "Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam merubah nama Al Ash, Aziz, 'Athalah, Syaithan, Al Hakam, Ghurab, Hubab, dan Syihab. Beliau menamainya Hisyam, Harb menjadi Salm, menyebut Al Mudhthaji' dengan Al Munba'its, mengubah nama daerah 'Afirah dengah Khadhirah, Syi'b Adh-Dhalalah menjadi Syi'b Al Huda, Bani Al Zinyah menjadi Bani Al Risydah, dan Bani Mughwiyah menjadi Bani Risydah." Abu Daud berkata lagi, "Sengaja aku tinggalkan sanad-sanadnya untuk meringkas." (HR. Bukhari) Mengganti Nama Anak Dengan Yang Lebih Baik Dari Muhammad bin Amr bin Atha' dia berkata, "Dulu saya memberi nama anak perempuan saya Barrah. Kemudian Zainab binti Abu Salama berkata kepada saya, 'Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam telah melarang pemberian nama itu. Dulu nama saya adalah Barrah. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, 'Janganlah kalian menganggap bersih diri kalian, karena Allah lebih tahu ahli kebaikan di antara kalian. Ketika para sahabat bertanya, "Nama apa yang sebaiknya kami berikan kepadanya?" Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam langsung menjawab,"Berilah nama Zainab.' (HR. Muslim) Dari Ibnu Umar RA, bahwasanya putri Umar RA semula bernama 'Ashiyah {yang durhaka}. Setelah itu, Rasulullah pun menggantinya dengan nama Jamilah {yang cantik}. (HR. Muslim) Dari Ibnu Abbas RA, dia berkata, "Pada awalnya Juwairiah itu bernama Barrah. Setelah itu, Rasulullah pun mengganti namanya menjadi Juwairiah. Selain itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam tidak suka orang mengatakan, 'Rasulullah keluar dari sisi Barrah.'" (HR. Muslim) Dari Usamah bin Akhdari bahwa seorang lelaki bernama Ashram bersama serombongan orang yang datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Kemudian beliau bertanya, "Apa namamu?" Ia menjawab, "Ashram." Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, "(Bukan) Engkau adalah Zur'ah." (HR. Abu Daud) Menyukai Nama Suku Yang Baik Dari Abdullah bin Buraidah bahwasanya Nabi selalu optimis dan tidak pernah merasa sial karena satu hal tertentu. Suatu ketika Buraidah berangkat bersama 70 orang penunggang kuda dari sukunya, Bani Sahm. Lalu dia bertemu Nabi lantas beliau bertanya kepadanya,”Dari marga apa kamu?” Dia menawab,”Asalam.” (yang berarti selamat). Beliau berkata kepada Abu Bakar,”Kita telah selamat.” Kemudian beliau berkata lagi,”Dari suku apa?” Dia menjawab,”Suku Sahm.” (yang berarti jatah) Beliau berkata kepada Abu bakar,”Kalau begitu, telah keluarlah Sahmmu (bagian dari perolehan ghanimah Uhud)” (Sirah Shafiyyurahman Al Mubarakfury) Memberikan Julukan Yang Baik Dari Abu Jabirah bin Adh-Dhahhak, ia berkata, "Ayat berikut turun kepada kami, Bani Salamah, "dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman. " (Qs. Al Hujuraat [49]: 11). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam datang kepada kami dan tidak ada seorang pun dari kami melainkan ia mempunyai dua atau tiga nama, maka beliau bersabda, 'Wahai fulan.' Mereka menjawab, 'Jangan, wahai Rasulullah, sesungguhnya ia marah dipanggil demikian, maka turunlah ayat tersebut." (HR. Abu Daud) Memberikan Julukan Yang Tepat Dari Hani', bahwa ketika ia berkunjung kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersama kaumnya, Beliau mendengar mereka menjulukinya Abul Hakam. Rasulullah memanggilnya dan bertanya, "Sesungguhnya Allah-lah Sang Penentu (hakim) itu dan hanya kepada-Nya hukum itu ditentukan. Mengapa engkau dijuluki Abul Hakam?"Ia menjawab, "Sesungguhnya jika kaumku berselisih tentang sesuatu, mereka mendatangiku dan aku memberikan putusan (hukum)ku terhadap masalah di antara mereka dan mereka menerimanya." Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, "Alangkah baiknya ini! Apakah engkau tidak mempunyai anak?" Ia menjawab, "Aku mempunyai anak bernama Syuraih, Muslim, dan Abdullah." Beliau bertanya lagi, "Lalu siapa yang paling tua?" Ia menjawab, "Syuraih." Beliau berkata, "Maka engkau adalah Abu Syuraih." Abu Daud berkata, "Syuraih adalah orang yang menghilangkan garis keturunan dan ia termasuk orang yang memasuki Tustar." Abu Daud juga berkata, "Sampai kepadaku (sebuah riwayat) bahwa Syuraih menghancurkan pintu Tustar dan masuk melalui Sirb." (HR. An Nasa’i) Nama Perabotan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam Salah satu kebiasaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam adalah memberi nama terhadap properti (barang-barang) yang dimilikinya. Berikut ini adalah nama-nama properti tersebut : 1. Nama gelasnya adalah ar-Rayyan 2. Nama mangkoknya adalah al-Gharra’ 3. Nama tekonya adalah as-Shadir 4. Nama tikarnya adalah al-Kazz 5. Nama guntingnya adalah al-Jami‘ 6. Nama cerminnya adalah al-Mudillah 7. Beliau memiliki sebuah kotak untuk menyimpan cermin, sisir, gunting, dan siwak. 8. Nama tongkatnya adalah al-Mamsyuq 9. Nama tongkatnya yang ujungnya besi adalah an-Namir 10. Nama kudanya yang berwarna hitam adalah as-Sakb 11. Nama kudanya yang berambut pirang adalah al-Murtajiz 12. Nama kudanya yang lain adalah al-Lahif, az-Zharb, dan al-Lizaz 13. Nama pelana-kudanya adalah adalah ar-Rajj 14. Nama unta (betina)-nya adalah al-Qashwa atau disebut pula al-Adhba’ 15. Nama baghal-nya adalah Duldul 16. Nama keledainya adalah Ya‘fur 17. Nama kambing yang sering diminum susunya adalah Ghaytsah 18. Nama kemahnya adalah al-Kinn 19. Nama bendera yang dipakai untuk berperang adalah al-Uqab. 20. Nama pedang yang sering dipakai berperang adalah Dzul Fiqar. beliau juga punya pedang lainnya. 21. Nama tabung panahnya adalah al-Kafur atau Dzul Jum‘ 22. Nama busur panahnya adalah Dzus Sadad 23. Nama perisainya adalah al-Dzafn 24. Nama baju perangnya yang dilapisi tembaga adalah Dzat al-Fudhul 25. Nama tembok (benteng pertahanan)-nya adalah an-Nab’a’ Sumber: Syaikh al-Allamah al-Muhaddits Yusuf Ismail an-Nabhani, Wasa’il al-Wushul ila Syama’il al-Rasul (Dar el-Minhaj, Beirut, 2009)

Ibadah Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam

Ibadah Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam Ibadah Rasulullah Ibadah Rasul Dari Sa'ad bin Hisyambahwa dia pernah berjumpa dengan lbnu Abbas, dia bertanya kepadanya tentang shalat witir. Lalu ia menjawab; "Maukah kamu aku beri tahu penghuni bumi yang paling mengetahui tentang shalat witir Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam?" Dia menjawab; "Ya, mau." lbnu Abbas berkata; "Dia adalahAisyah. Datangi dan tanyakanlah hal itu kepadanya, dan kembalilah kepadaku untuk memberitahukan jawabannya kepadaku." Kemudian dia (Hisyam) datang kepada Hakim bin Aflah untuk meminta menemaninya datang kepada Aisyah. Lalu ia menjawab, 'Aku bukan tak mau mendekatinya. Aku pernah melarangnya untuk berbicara sesuatu tentang dua kelompok yang bertengkar, namun ia menolaknya, ia terus saja melakukan!" Lalu ia (Hisyam) bersumpah kepadanya, dan akhirnya dia mau datang kepada Aisyah bersamanya. Lalu ia masuk ke tempat Aisyah. Kemudian Aisyah bertanya kepada Hakim, "Siapa yang bersamamu?" la menjawab; "Sa'ad bin Hisyam." la bertanya lagi, " Hisyam yang mana?" la menjawab; "Anaknya Amir." Lalu ia mendoakan baginya dan berkata, "Sebaik-baik lelaki adalah`Amir!" Hakim bertanya, "Wahai Ummul Mukminin, kabarkanlah kepadaku tentang akhlak Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam?" Aisyah menjawab, "Bukankah kamu membaca Al Qur'an?" Hakim menjawab, "Ya." Aisyah lalu berkata, "Akhlak Nabi Allah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam adalah Al Qur'an." Aku ingin berdiri (pamit pulang), namun timbul keinginan untuk mengetahui cara Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam melakukan shalat malam, maka ia bertanya lagi, "Wahai Ummul Mukminin! Kabarkanlah kepadaku tentang shalat malam Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam?" Aisyah menjawab; "Bukankah kamu membaca surah Al Muzammil?" Hakim menjawab, "Ya." Aisyah berkata; "Allah Azza wa Jalla mewajibkan shalat malam pada permulaan surah ini, lalu Rasulullah bersama para sahabatnya menegakkan shalat malam dengan sekuat tenaga sampai telapak kaki mereka membengkak. Kemudian Allah Azza wa Jalla menahannya -yang ujungnya dua belas bulan- lalu menurunkan keringanannya pada akhir surah ini (Al Muzammil), sehingga shalat malam yang semula hukumnya wajib menjadi sunnah." Aku ingin berdiri, namun aku juga ingin mengetahui shalat witir Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam, maka aku bertanya; "Wahai Ummul Mukminin! Kabarkanlah kepadaku tentang shalat witir Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam?" Aisyah menerangkan, "Kami mempersiapkan siwak dan air wudlunya, lalu Allah Azza wa Jalla membangunkannya sekehendakNya pada malam hari, kemudian beliau bersiwak dan berwudlu lalu mengerjakan shalat delapan rakaat tanpa ada duduk, kecuali pada rakaat kedelapan. Beliau berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla dan berdoa kepada-Nya, lalu mengucapkan salam dengan salam yang terdengar oleh kami. Kemudian beliau shalat dua rakaat sambil duduk- setelah salam, dan shalat lagi satu rakaat, sehingga berjumlah sebelas rakaat. Wahai anakku, setelah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam mencapai umur senja dan mulai gemuk, beliau mengerjakan witir tujuh rakaat, lalu shalat dua rakaat sambil duduk setelah salam, sehingga semuanya menjadi sembilan rakaat. Wahai anakku, bila Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam mengerjakan suatu shalat, maka beliau senang untuk melakukannya secara terus-menerus. Bila beliau berhalangan untuk shalat malam karena ketiduran atau sakit, maka beliau mengerjakan shalat dua belas rakaat pada siang harinya. Aku tidak mengetahui bahwa Nabi Allah pernah membaca Al Qur'an seluruhnya dalam satu malam. Aku juga tidak mengetahui bahwa beliau shalat malam secara sempurna hingga pagi, dan aku pun tidak mengetahui bahwa beliau berpuasa satu bulan penuh selain pada bulan Ramadlan." Lalu ia (Hisyam) datang kepada Ibnu Abbas dan menceritakan hal tersebut kepadanya. Dia mengomentarinya dengan berkata; "Beliau (Aisyah) benar. Seandainya aku yang masuk (datang) kepadanya pasti aku akan menemuinya sehingga dia (Aisyah) berbicara langsung kepadaku." Abu Abdurrahman berkata, "Begitulah yang tertera dalam kitabku! Aku tidak mengetahui ini kesalahan siapa, dalam posisi witir beliau shallallahu 'alaihi wasallam." (HR. Nasai) Wudhu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam Menyempurnakan Wudhu Humran, maula (pelayan) Utsman bin Affan pernah melihat Utsman bin Affan meminta air wudhu’. Kemudian beliau berwudhu’ dengan cara menuangkan air pada kedua telapak tangan nya, lalu beliau mencucinya sebanyak tiga kali. Kemudian Utsman ra. mengambil air dari bejana dengan tangan kanannya, lalu beliau berkumur-kumur (madhmadhah) dan beristinsyaq (menghirup air ke hidung). Setelah itu beliau mencuci wajahnya tiga kali, lalu mencuci kedua tangannya sampai kedua sikunya tiga kali. Kemudian mengusap kepalanya, kemudian beliau mencuci kedua kakinya sebanyak tiga kali. Setelah itu Utsman bin Affan berkata: “Demikianlah aku melihat Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wassallam berwudhu’ seperti cara yang aku lakukan, kemudian Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wassallam bersabda: “Barang siapa yang berwudhu' seperti wudhu’ku ini (sesuai dengan bimbinganku), sesudah itu dia sholat dua raka’at dengan penuh konsentrasi, tidak memikirkan yang lainnya, pasti ia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lampau"(HR.Muslim) Memperpanjang Anggota Wudhu Abu Hurairah, berkata, "Saya mendengar Rasulullah salallahu alaihi wassalam bersabda, "Sesungguhnya ummatku itu akan dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan bercahaya wajahnya dan amat putih bersih tubuhnya karenabekas berwudhu'. Maka dari itu, barangsiapa di antara kalian yang dapat memperpanjang cahayanya, maka hendaklah melakukannya -dengan menyempurnakan berwudhu' itu sesempurna mungkin." (HR. Muttafaq 'alaih) Awal Perintah Shalat Perintah Shalat Termasuk wahyu pertama yang turun adalah perintah mendirikan shalat. Ibnu Hajar berkata: “sebelum terjadinya Isra’, beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam secara qath’i pernah melakukan shalat, demikian pula dengan para shahabat akan tetapi yang diperselisihkan apakah ada shalat lain yang telah diwajibkan sebelum (diwajibkannya) shalat lima waktu ataukah tidak?. Ada pendapat yang mengatakan bahwa yang telah diwajibkan itu adalah shalat sebelum terbit dan terbenamnya matahari”. Demikian penuturan Ibnu Hajar. Al-Harits bin Usamah meriwayatkan dari jalur Ibnu Lahi’ah secara maushul ( disambungkan setelah sanad-sanadnya mu’allaq [terputus di bagian tertentu]) dari Zaid bin Haritsah bahwasanya pada awal datangnya wahyu, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam didatangi oleh malaikat Jibril; dia mengajarkan beliau tata cara berwudhu. Maka tatkala selesai melakukannya, beliau mengambil seciduk air lantas memercikkannya ke faraj beliau. Ibnu Majah juga telah meriwayatkan hadits yang semakna dengan itu, demikian pula riwayat semisalnya dari al-Bara’ bin ‘Azib dan Ibnu ‘Abbas serta hadits Ibnu ‘Abbas sendiri. Hal tersebut merupakan kewajiban pertama. Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa bila waktu shalat telah masuk, Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam dan para shahabat pergi ke perbukitan dan menjalankan shalat disana secara sembunyi-sembunyi jauh dari kaum mereka. Abu Thalib pernah sekali waktu melihat Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam dan ‘Ali melakukan shalat, lantas menegur keduanya namun manakala dia mengetahui bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang serius, dia memerintahkan keduanya untuk berketetapan hati (tsabat). Perintah Shalat Dalam Kisah Isra' Mi'raj Telah menceritakan kepada kami Affan ia berkata, Telah menceritakan kepada kami Hammam bin Yahya ia berkata; Aku mendengar Qatadah menceritakan dari Anas bin Malik bahwa Malik bin Sha'sha'ah telah menceritakan kepadanya bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Salam pernah menceritakan kepada mereka tentang malam Isra`nya. "....Setelah itu, diturunkanlah kewajiban shalat sebanyak lima puluh kali setiap harinya. Aku pun kembali dan melewati Musa 'Alaihis Salam, ia pun bertanya, 'Apa telah diperintahkan kepadamu? ' Aku menjawab, 'Aku diperintahkan untuk menunaikan shalat lima puluh kali setiap harinya.' Musa berkata, 'Sesungguhnya ummatmu tidak akan sanggup untuk menunaikan shalat lima puluh kali dalam sehari. Sesungguhnya aku telah menguji manusia sebelummu dan aku telah mengobati kaum Bani Isra'il. Kembalilah pada Rabb-mu, dan mintalah keringanan untuk ummatmu.' Maka aku pun kembali, dan Rabb-ku menguranginya sepuluh. Lalu aku menemui Musa. Ia pun bertanya, 'Apa yang telah diperintahkan kepadamu? ' Aku menjawab, 'Menunaikan empat puluh shalat setiap harinya.' Musa menjawab, 'Sesungguhnya ummatmu tidak akan sanggup untuk menunaikan sebanyak empat puluh shalat dalam sehari. Sesungguhnya aku telah menguji manusia sebelummu dan aku telah mengobati kaum Bani Isra'il. Kembalilah pada Rabb-mu, dan mintalah keringanan untuk ummatmu.' Maka aku pun kembali lagi, dan Rabb-ku mengurangi lagi sepuluh. Lalu aku menemui Musa. Musa bertanya, 'Apa yang telah diperintahkan padamu? ' Aku berkata, 'Aku telah diperintahkan untuk menunaikan tiga puluh shalat dalam sehari.' Musa berkata lagi, 'Sesungguhnya ummatmu tidak akan sanggup untuk menunaikan sebanyak tiga puluh shalat dalam sehari. Sesungguhnya aku telah menguji manusia sebelummu dan aku telah mengobati kaum Bani Isra'il. Kembalilah pada Rabb-mu, dan mintalah keringanan untuk ummatmu.' Akhirnya aku pun kembali lagi meminta keringanan, lalu Allah menguranginya lagi sepuluh raka'at. Kemudian aku menemui Musa. Ia bertanya, 'Apa yang telah diperintahkan kepadamu? ' Aku menjawab, 'Menunaikan dua puluh shalat setiap harinya.' Musa menjawab, 'Sesungguhnya ummatmu tidak akan sanggup untuk menunaikan sebanyak dua puluh shalat dalam sehari. Sesungguhnya aku telah menguji manusia sebelummu dan aku telah mengobati kaum Bani Isra'il. Kembalilah pada Rabb-mu, dan mintalah keringanan untuk ummatmu.' Maka aku pun kembali lagi, dan Rabb-ku mengurangi lagi sepuluh rakaat. Aku menemui Musa, dan ia bertanya lagi, 'Apa yang telah diperintahkan kepadamu? ' Aku menjawab, 'Menunaikan sepuluh shalat setiap harinya.' Musa menjawab, 'Sesungguhnya ummatmu tidak akan sanggup untuk menunaikan sebanyak sepuluh puluh shalat dalam sehari. Sesungguhnya aku telah menguji manusia sebelummu dan aku telah mengobati kaum Bani Isra'il. Kembalilah pada Rabb-mu, dan mintalah keringanan untuk ummatmu.' Maka aku pun kembali lagi, dan akhirnya aku diperintahkan untuk menunaikan lima kali shalat dalam sehari. Setelah itu, aku kembali ke Musa. Ia bertanya, 'Apa yang telah diperintahkan kepadamu? ' Aku menjawab, 'Yaitu menunaikan lima kali shalat dalam sehari.' Musa berkata, 'Sesungguhnya ummatmu tidak akan sanggup untuk menunaikan sebanyak sepuluh lima shalat dalam sehari. Sesungguhnya aku telah menguji manusia sebelummu dan aku telah mengobati kaum Bani Isra'il. Kembalilah pada Rabb-mu, dan mintalah keringanan untuk ummatmu.' Sungguh, aku telah meminta keringanan kepada Rabb-ku hingga aku malu terhadap-Nya. Akan tetapi aku ridla dan menerimanya. Dan ketika aku pergi, sang penyeru menyerukan: 'Aku telah tetapkan faridlah-Ku..dan Aku juga telah memberi keringanan atas hamba-Ku.'" Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam Contoh Ibadah Mencontohkan Shalat Kepada Umat Dari Abu Hazim bin Dinar, bahwasanya ada beberapa orang yang datang kepada Sahal bin Sa'ad As-Saidi, mereka memperdebatkan tentang dari bahan kayu apakah mimbar itu dibuat? Maka mereka menanyakan hal tersebut kepada Sahl, lalu ia berkata, "Demi Allah, sesungguhnya pasti mengetahuinya, dari kayu apakah mimbar itu dibuat. Sungguh Aku melihatnya ketika pertama kali diletakkan, dan pada hari pertama kali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam duduk di atasnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah mengutus seseorang kepada si Fulanah, seorang wanita yang namanya disebutkan oleh Sahal, katanya, 'Suruhlah budakmu yang tukang kayu itu untuk membuat mimbar untuk aku duduk di atasnya apabila berpidato kepada orang banyak.' Maka wanita itu menyuruhnya. Kayu itu diambil dari daerah Ghabah Tharta' (dekat Madinah). Setelah selesai, dibawanya kepada wanita itu, kemudian dikirim kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam memerintahkan supaya diletakkan di sini. Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam mengerjakan shalat di atas mimbar itu, bertakbir, lalu ruku' sementara beliau masih di atasnya, kemudian turun dengan pelan-pelan mundur ke belakang, terus sujud dekat mimbar itu. Setelah itu, beliau kembali. Setelah selesai shalat, beliau menghadap kepada orang banyak, lalu bersabda, 'Wahai saudara sekalian! Aku berbuat yang demikian itu tak lain supaya kalian mengikuti aku dan mengetahui shalatku. "(HR. Bukhari dan Muslim) Kecintaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam Pada Shalat Kecintaan Pada Shalat Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah bersabda,”Yang paling kusenangi adalah wewangian dan wanita, sedangkan kecintaan hatiku terhadap shalat.” (HR. Ahmad dan An Nasai) Menyesal Karena Shalat Tidak Tepat Waktu Dari Ali radliallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda pada hari perang khandak: "Mereka telah menyibukkan kita dari shalat wustha yaitu shalat asar, hingga matahari terbenam, semoga Allah memenuhi kuburan dan rumah mereka atau perut -Yahya merasa ragu- mereka dengan api." (HR. Bukhari) Menghindari Penghalang Khusyu’ Dari Anas radliallahu 'anhu dia berkata;"Bahwa Aisyah memiliki sehelai kain yang bergambar dan digunakan sebagai tabir rumahnya, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadanya: "Singkirkanlah ia dariku, karena gambarnya selalu memalingkanku dalam shalat." (HR. Bukhari) Aktivitas Rasul di rumah Al-Aswad bin Yazid berkata: "Aku pernah bertanya kepada 'Aisyah Radhiallaahu anha tentang shalat malam Rasulullah. 'Aisyah menjawab: "Biasanya beliau tidur di awal malam, kemudian tengah malamnya beliau bangun mengerjakan shalat malam. Bila merasa ada keperluan beliau segera menemui istri. Beliau segera bangkit begitu mendengar seruan azan. Beliau segera mandi bila dalam keadaan junub. Jika tidak, maka beliau segera berwudhu' lalu berangkat (ke masjid untuk) shalat." (HR. Al-Bukhari) Rasulullah Shalat Dhuha Mu'adzah berkata: "Aku bertanya kepada 'Aisyah Radhiallaahu anha: "Apakah Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam sering mengerjakan shalat Dhuha?" ia menjawab: "Tentu, beliau sering mengerjakan shalat Dhuha empat rakaat bahkan lebih dari itu seluang waktu yang diberikan Allah ." (HR. Muslim) Sifat Shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam Memanjangkan Shalat Hudzaifah bin al-Yaman al-Anshari yang terkenal sebagai penyimpan rahasia ra berkata, "Aku pernah shalat beserta Rasulullah pada suatu malam maka beliau membuka dalam rakaat pertama dengan surat al-Baqarah. Aku berkata, "Rasulullah membaca hingga ayatkeseratus, kemudianrukuk." Selanjutnya Beliau membuka rakaat kedua dengan surat an-Nisa'kemudiandilanjutkansurat ali Imran. Beliau salallahu alaihi wassalam membacanya itu dengan rapi sekali -tidak tergesa-gesa.Jika melalui ayat yang di dalamnya mengandung memahasucikanAllah–beliaupun mengucapkan tasbih. Jika melalui ayat yang mengandung suatu permohonan, beliaupun memohon.Jika melalui ayat yang menyatakan mohon perlindungan kepada Allah dari sesuatu yang tidak baik, beliaupun berta'awwudz untukmohon perlindungan. Kemudian beliau ruku' dan di membacaSubhana rabbiyal 'azhim.Lama ruku'nya adalah sepertidengan berdirinya selanjutnya beliau mengucapkan, Sami'allahu iiman hamidah. Rabbana lakalhamd," lalu berdiri dengan berdiri yang lama mendekati ruku'nya tadi. Seterusnya beliau bersujud lalu mengucapkan, Subhana rabbial a'la, maka sujudnya itu mendekati pula akan berdirinya" (HR. Muslim) Tahajud Hingga Kaki Bengkak Abu Hurairah Radhiallahu anhu menceritakan: Rasulullah biasa mengerjakan shalat malam hingga membengkak kedua telapak kakinya. Ada yang bertanya kepada beliau: "Wahai Rasulullah, mengapa Anda melakukan sedemikian itu, bukankah Allah telah mengampuni segala dosa Anda yang lalu maupun yang akan datang?" beliau menjawab: "Bukankah selayaknya aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?"(HR. Ibnu Majah). Dari Aisyah radliallahu 'anha bahwaNabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat malam hingga kaki beliau bengkak-bengkak. Aisyah berkata: Wahai Rasulullah, kenapa Anda melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosa anda yang telah berlalu dan yang akan datang? Beliau bersabda: "Apakah aku tidak suka jika menjadi hamba yang bersyukur?" Dan tatkala beliau gemuk, beliau shalat sambil duduk, apabila beliau hendak ruku' maka beliau berdiri kemudian membaca beberapa ayat lalu ruku.'(HR. Bukhari) Shalat Dengan Tumakninah Abu Hurairah berkata bahwa suatu kali saat Rasulullah salallahu alaihi wassalam berada di masjid, datanglah seseorang untuk menunaikan shalat dan sesudah shalat, dia mengucapkan salam pada Rasulullah salallahu alaihi wassalam. beliau menjawab salamnya dan berkata, “Kembalilah, dirikanlah shalat karena engkau belum shalat”. Pria itu kembali melaksanakan shalat dan sesudah selesai dia kembali menemui Nabi salallahu alaihi wassalam dan mengucapkan salam kepada beliau. Beliau menjawab salamnya dan mengucapkan padanya seperti apa yang beliau ucapkan sebelumnya. Sesudah shalat yang ketiga kalinya dan menemui Nabi salallahu alaihi wassalam lalu memberi salam pada beliau, beliau mengucapkan padanya seperti yang beliau ucapkan sebelumnya. Dia menjawab, “Demi Yang Mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak dapat melakukan yang lebih baik dari ini. Ajarilah aku”. Beliau lalu bersabda, “Jika engkau mendirikan shalat ucapkanlah takbir lalu bacalah ayat Al Qur’an yang mudah engkau baca. Lalu rukuklah dengan sempurna kemudian bangkitlah sampai tegak. Sesudah itu sujudlah sampai engkau sujud dengan sempurna. Lalu bangkitlah sampai engkau duduk dengan sempurna dan lakukanlah itu di seluruh shalatmu” (HR. Muslim) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam Meluruskan Shaf Wajibnya Meluruskan Shaf Dari Jabir bin Samurah dia berkata: Nabi -alaihishshalatu wassalam- bersabda: “Tidakkah kalian berbaris sebagaimana malaikat berbaris di sisi Rabbnya?” Maka kami berkata, ”Wahai Rasulullah, bagaimana malaikat berbaris di sisi Rabbnya?” Beliau bersabda, “Mereka menyempurnakan shaf-shaf pertama & mereka rapat dlm shaf.” (HR. Muslim no. 430) Dari Abu Mas’ud -radhiallahu Ta’ala anhu- dia berkata: “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengusap pundak kami ketika akan shalat seraya bersabda, “Luruskanlah, & jangan berselisih sehingga hati kalian bisa berselisih. Hendaklah yang tepat di belakangku adalah orang yang dewasa yang memiliki kecerdasan & orang yang sudah berakal di antara kalian, kemudian orang yang sesudah mereka, kemudian orang yang sesudah mereka.” (HR. Muslim no. 432) Dari Anas bin Malik -radhiallahu Ta’ala anhu- dari Nabi -alaihishshalatu wassalam- beliau bersabda, “Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya meluruskan shaf termasuk kesempurnaan sholat”. (HR. Muslim no. 433) Dari sahabat Nu’man bin Basyir -radhiallahu anhu- berkata: “Dulu Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- meluruskan shaf kami sehingga seakan beliau meluruskan anak panah (ketika diruncingkan,pen), sampai beliau menganggap kami telah memahaminya. Beliau pernah keluar pada suatu hari, lalu beliau berdiri sampai beliau hampir bertakbir, maka tiba-tiba beliau melihat seseorang yang membusungkan dadanya dari shaf. Maka beliau bersabda, “Wahai para hamba Allah, kalian akan benar-benar akan meluruskan shaf kalian atau Allah akan membuat wajah-wajah kalian berselisih.” (HR.Muslim no. 436) Anas bin Malik -radhiallahu Ta’ala anhu- bercerita, “Sholat telah didirikan (telah dikumandangkan iqomah), lalu Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- menghadapkan wajahnya kepada kami seraya bersabda: “Tegakkanlah shaf-shaf kalian & rapatkan karena sesungguhnya aku bisa melihat kalian dari balik punggungku”. (HR. Al-Bukhari no. 719) Shalat Malam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam Membiasakan Bangun Malam Aisyah ra bahwa, “Rasulullah tidur di awal malam dan bangun di akhirnya” (HR. Ahmad) Ali bin Abi Thalib juga berkata bahwa Nabi salallahu alaihi wassalam mendatanginya dan Fathimah di waktu malam, lalu beliau bersabda, "Apakah engkau berdua tidak bershalat?" (HR. Muttafaq 'alaih) Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash ra, berkata, "Rasulullah salallahu alaihi wassalam bersabda, "Hai Abdullah, janganlah engkau menjadi seperti si Fulan itu. Dulu ia suka sekali bangun bershalat di waktu malam, tetapi kini meninggalkan bangun shalat waktu malam itu." (HR. Muttafaq 'alaih) Shalat Malam Selama 1 Tahun Dari Ibnu Abbas RA, dia berkata, "Ketika turun awal surah Al Muzammil, mereka bangun seperti bangunnya di bulan Ramadhan, sampai turun akhir surah Al Muzammil. Rentang waktu turunnya antara awal surah Al Muzammil dengan akhirnya itu selama satu tahun." (HR. Abu Daud) Sifat Shalat Malam Rasulullah Dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma dia berkata;suatu ketika aku bermalam di rumah bibiku Maimunah, aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berbincang-bincang bersama istrinya sesaat. Kemudian beliau tidur. Tatkala tiba waktu sepertiga malam terakhir, beliau duduk dan melihat ke langit lalu beliau membaca; "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." (Ali Imran; 190). Lalu beliau berwudlu dan bersiwak, kemudian shalat sebelas raka'at. Setelah mendengar Bilal adzan, beliau shalat dua raka'at kemudian beliau keluar untuk shalat subuh. (HR. Bukhari) Ibadah Malam Rasulullah Ya'la bin Mamlakmengabarkan kepadanya bahwasanya ia bertanya kepada Ummu Salamahtentang shalat Nabi Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam, maka ia menjawab; "Beliau Shalallahu 'Alaihi Wa Sallaw shalat isya' kemudian bertasbih. Setelah itu beliau shalat lagi sebagaimana yang dikehendaki-Nya di waktu malam, lalu beliau pulang dan tidur yang lamanya sebagaimana beliau shalat. Kemudian beliau bangun kembali dan shalat yang lamanya sebagaimana beliau tidur tadi. Shalat ini adalah shalat malam beliau yang terakhir hingga subuh." (HR. Nasai) Tidak Meninggalkan Shalat Malam Dari Abul Qais, dia berkata,”Aisyah berkata,”Janganlah kau tinggalkan shalat malam, karena Rasulullah juga tidak pernah meninggalkannya. Jika sedang sakit atau malas, maka beliau mengerjakannya dengan duduk.” (HR. Syaikhani) Mengqadha Shalat Malam Aisyah radhiallahu 'anha, berkata, "Rasulullah salallahu alaihi wassalam itu apabila terlambat melakukan shalat malam karena sakit atau lain-lain, maka beliau salallahu alaihi wassalam mendirikan shalat duabelas rakaat di waktu siang harinya." (HR. Muslim) Shalat Malam Meski Dalam Safar Abu Raja' berkata, telah bercerita kepada kami 'Imran bin Hushain bahwamereka pernah bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam suatu perjalanan. Mereka terus berjalan sepanjang malam itu hingga ketika menjelang Shubuh, mereka beristirahat di suatu tempat lalu mereka mengantuk hingga tertidur sampai matahari meninggi. Orang yang pertama kali bangun adalah Abu Bakr, dia tidak membangunkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sampai beliau terbangun sendiri. Kemudian 'Umar terbangun, Abu Bakr duduk dekat kepala beliau shallallahu 'alaihi wasallam lalu bertakbir dengan mengeraskan suaranya hingga Nabi shallallahu 'alaihi wasallam terbangun. Kemudian beliau keluar (dari tenda) lalu menunaikan shalat Shubuh bersama kami. Sementara itu ada seorang laki-laki dari suatu kaum yang memisahkan diri (mengisolir diri) tidak ikut shalat bersama kami. Setelah selesai, beliau bertanya; "Wahai fulan, apa yang menghalangimu untuk shalat bersama kami?. Orang itu menjawab; "Aku mengalami junub". Beliau memerintahkan orang itu untuk bertayamum dengan debu, orang itu pun melaksanakan shalat. (HR. Bukhari) Malam Ramadhan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam Meningkatkan Ibadah Di Bulan Ramadhan Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma berkata:"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah orang yang paling lembut (dermawan) dalam segala kebaikan. Dan kelembutan Beliau yang paling baik adalah saat bulan Ramadhan ketika Jibril alaihissalam datang menemui Beliau. Dan Jibril Alaihissalam datang menemui Beliau pada setiap malam di bulan Ramadhan (untuk membacakan Al Qur'an) hingga Al Qur'an selesai dibacakan untuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Apabila Jibril Alaihissalam datang menemui Beliau, maka Beliau adalah orang yang paling lembut dalam segala kebaikan melebihi lembutnya angin yang berhembus". (HR. Bukhari) Cara Rasulullah Shalat Di Bulan Ramadhan Dari Abu Salamah bin 'Abdur Rahman bahwa dia bertanya kepada 'Aisyah radliallahu 'anhu; "Bagaimana tata cara shalat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada bulan Ramadlan?".. 'Aisyah radliallahu 'anhu menjawab; "Beliau shalat (sunnah qiyamul lail) pada bulan Ramadlan dan bulan-bulan lainnya tidak lebih dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat raka'at, maka jangan kamu tanya tentang kualitas bagus dan panjangnya, kemudian beliau shalat lagi empat raka'at, maka jangan kamu tanya tentang kualitas bagus dan panjangnya kemudian beliau shalat tiga raka'at. Aku pernah bertanya; "Wahai Rasulullah, apakah baginda tidur sebelum melaksakan shalat witir? '. Beliau menjawab: "Mataku memang tidur tapi hatiku tidaklah tidur". (HR. Bukhari) Meningkatkan Ibadah Di 10 Akhir Ramadhan Dari 'Aisyah radliallahu 'anha berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Ramadhan), Beliau mengencangkan sarung Beliau, menghidupkan malamnya dengan ber'ibadah dan membangunkan keluarga Beliau". (HR. Bukhari) Membangunkan Keluarga Untuk Ibadah Dari Aisyah RA, dia berkata, "Jika tiba sepuluh hari yang terakhir, beliau menghidupkan malam hari (untuk beribadah), beliau membangunkan keluarganya dan bersungguh-sungguh (beribadah) serta mengencang kan kainnya." (HR. Muslim) Sederhana Dalam Ibadah Seimbang Dalam Beribadah Anasraberkata, "Rasulullah salallahu alaihi wassalam pernahtidak berpuasa sebulan penuh, sehingga kita menyangka bahwa beliau tidak pernah berpuasa dalam bulan itu, tetapi kadang-kadang beliau salallahu alaihi wassalam berpuasa sebulan penuh, sehingga kita menyangka bahwa beliau tidak pernah berbuka sedikitpun dalam bulan itu. Tidaklah engkau menginginkan melihat beliau shalat di waktu malam, melainkan engkau akan dapat melihat beliau shalat, tetapi jika engkau menginginkan beliau tidur, maka engkau akan dapat melihat beliau sedang tidur." Maksudnya antara shalat malam dengan tidurnya itu demikian teratur waktunya, juga dilakukan tanpa berlebih-lebihan antara keduanya.(HR. Bukhari) Sederhana Dalam Beribadah Anas bin Malik radhiallaahu anhu menuturkan: "Tiga orang sahabat pernah datang ke rumah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk menanyakan ibadah yang beliau lakukan. Setelah diceritakan tentang ibadah beliau, mereka merasa ibadah yang mereka kerjakan terlalu sedikit dibandingkan dengan ibadah beliau. Mereka berkata: "Alangkah jauh kedudukan kita dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam! padahal telah diampuni dosa beliau yang lalu maupun yang akan datang. Seorang di antara mereka berkata: "Aku akan shalat malam selamanya." Yang lain berkata: "Sedangkan aku akan berpuasa terus menerus tanpa berbuka." Seorang lagi berkata: "Adapun aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selamanya." Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mendatangi mereka dan berkata: "Kaliankah yang mengatakan begini dan begini?! Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan yang paling bertakwa kepada-Nya dari pada kalian semua. Akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat malam dan juga tidur, aku juga menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci Sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku." (Muttafaq 'alaih) Rasulullah Paling Taqwa dan Takut Allah Dari Aisyah berkata:"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bila memerintahkan kepada para sahabat, Beliau memerintahkan untuk melakukan amalan yang mampu mereka kerjakan, kemudian para sahabat berkata; "Kami tidaklah seperti engkau, ya Rasulullah, karena engkau sudah diampuni dosa-dosa yang lalu dan yang akan datang". Maka Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjadi marah yang dapat terlihat dari wajahnya, kemudian bersabda: "Sesungguhnya yang paling taqwa dan paling mengerti tentang Allah diantara kalian adalah aku". (HR. Bukhari) Mengatur Waktu Untuk Shalat dan Tidur Ummu Salamah berkata, “Beliau melaksanakan shalat lalu tidur dengan lama waktu yang sama yang digunakan untuk shalat. Kemudian beliau bangun melaksanakan shalat dengan lama waktu yang sama yang digunakan untuk tidur. Lalu tidur kembali dengan lama waktu yang digunakan untuk shalat, hingga datang waktu shubuh” (HR. Bukhari) Shalat Ketika Segar Tidak Ngantuk Dari Anas RA, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah masuk ke dalam masjid, lalu ada tali yang terbentang antara dua tiang. Beliau bertanya, 'Tali apakah ini?' Maka dijawab, 'Wahai Rasulullah, ini Hamnah bind Jahsy sedang mengerjakan shalat, apabila dia merasa lelah, dia bergantung di tali ini.' Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, 'Hendaklah dia mengerjakan shalat sesuai kemampuannya. Apabila dia merasa lelah, maka duduklah.'" (HR. Bukhari dan Muslim) Kata Ziyad, Beliau bertanya, "Apakah ini? " Maka mereka menjawab, "Itu kepunyaan Zainab untuk shalat, jikalau dia lelah atau mengantuk maka dia berpegang di situ." Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam pun lalu bersabda, "Lepaskanlah tali itu! Seseorang itu hendaklah shalat selagi dia segar, dan jikalau telah lelah atau mengantuk, maka sebaiknya dia tidur." (HR. Bukhari dan Muslim) Meringankan Shalat Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir berkata, telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Ibnu Abu Khalid dari Qais bin Abu Hazim dari Abu Al Mas'ud Al Anshari berkata,seorang sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, aku hampir tidak sanggup shalat yang dipimpin seseorang dengan bacaannya yang panjang." Maka aku belum pernah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memberi peringatan dengan lebih marah dari yang disampaikannya hari itu seraya bersabda: "Wahai manusia, kalian membuat orang lari menjauh. Maka barangsiapa shalat mengimami orang-orang ringankanlah. Karena diantara mereka ada orang sakit, orang lemah dan orang yang punya keperluan".(HR. Bukhari) Taubat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam Zikir Setiap Waktu 'Aisyahradhiyallahu 'anhaberkata:"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam senantiasa berdzikir kepada Allah setiap waktu." (HR. Muslim) Istighfar 70x Abu Hurairah berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:"Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar (meminta ampunan) dan bertaubat kepada Allah dalam satu hari lebih dari tujuh puluh kali." (HR. Bukhari) Bertaubat 100x Sehari Dari Aghar Al Muzani, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, 'Sesungguhnya hatiku tertutup kabut (lupa). Sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah sebanyak seratus kali setiap hari.'" (HR. Muslim) Dari Ibnu Umar RA, dia berkata, "Sungguh, jika kami hitung dalam sekali pertemuan dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, beliau mengucapkan sebanyak seratus kali bacaan 'Rabbighfirlii watub 'alayya, innaka anta tawwaabur rahiim (Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang)'" (HR. Abu Daud) Umrah dan Haji Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam Mencontohkan Manasik Haji Ibnu Ishaq berkata : Ketika Umrah Qadha, Kaum Quraisy menyebarkan berita bohong, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan para sahabatnya sedang menghadapi kesukaran, kesulitan dan kepayahan. Ia berkata : Saat itu kaum Musyrikin Quraisy berbaris di pintu Darun-Nadwah, ingin melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan para sahabatnya. Setibanya di Mekkah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam langsung masuk ke dalam masjid al-Haram, kemudian duduk menghamparkan burdahnya dan sambil mengangkat tangan kanannya lalu beliau berucap : „Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada orang ynag hari ini dapat menyaksikan kekuatan yang datang dari hadhirat-Nya.“ Kemudian beliau mencium Hajar Aswad, lalu berjalan cepat bersama para sahabatnya mengelilingi Ka‘bah. Dalam thawaf ini beliau berlari kecil tiga keliling dan selebihnya berjalan biasa. Ibnu Abbas berkata : Orang-orang mengira bahwa hal itu bukan sunnah umum,Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam melakukan hal itu sekedar untuk membantah desas-desus yang disebarkan oleh orang-orang Quraisy tersebut. Tetapi pada haji wadah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam juga melakukannya sehingga hal ini menjadi sunnah. (Siroh Al Buthy) Rasulullah Umrah 4 Kali Dari Anas RA, bahwasanya Rasulullah pernah umrah empat kali, yang semuanya dilakukan pada bulan Dzul Qa'dah, kecuali umrah yang menyertai haji beliau, Pertama, umrah pada masa Hudaibiyah di dalam bulan Dzul Qa'dah. Kedua, umrah pada tahun berikutnya juga di bulan Dzul Qa'dah. Ketiga, umrah dari Ji'ranah ketika beliau membagikan harta rampasan perang Hunain, juga di bulan Dzul Qa'dah, dan keempat, umrah yang menyertai haji beliau (tidak di bulan Dzul Qa'dah)." (HR. Muslim) Rasulullah Naik Haji 1 Kali Abu Ishaq dia berkata; Telah menceritakan kepadaku Zaid bin Arqam bahwaNabi shallallahu 'alaihi wasallam telah berperang sebanyak sembilan belas peperangan. Dan beliau melaksanakan haji setelah hijrah sebanyak satu kali, beliau tidak melaksanakan haji wada' setelah itu. Abu Ishaq berkata; dan beliau juga pernah melaksanakan haji ketika beliau berada di makkah. (HR. Bukhari) Rasulullah Selamat Dari Godaan duniawi Ibnu al-Atsir meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “aku hanya dua kali pernah berkeinginan untuk melakukan apa yang pernah dilakukan oleh Ahli Jahiliyyah namun semua itu dihalangi oleh Allah sehingga aku tidak melakukannya, kemudian aku berkeinginan lagi untuk melakukannya hingga Dia Ta’ala memuliakanku dengan risalahNya. (Pertama kalinya-red);Suatu malam aku pernah berkata kepada seorang anak yang menggembala kambing bersamaku di puncak Mekkah; ‘sudikah kamu mengawasi kambingku sementara aku akan memasuki Mekkah dan bergadang ria seperti yang dilakukan oleh para pemuda tersebut?’. Dia menjawab: ‘ya, aku sudi! ‘. Lantas aku pergi keluar hingga saat berada di sisi rumah yang posisinya paling pertama dari Mekkah, aku mendengar suara alunan musik (tabuhan rebana), lalu aku bertanya: apa gerangan ini?, mereka menjawab: ‘prosesi pernikahan si fulan dengan si fulanah! ‘. Kemudian aku duduk-duduk untuk mendengarkan, namun Allah melarangku untuk mendengarkannya dan membuatku tertidur. Dan tidurku amat lelap sehingga hampir tidak terjaga bila saja terik panas matahari tidak menyadarkanku. Akhirnya, aku kembali menemui temanku yang langsung bertanya kepadaku tentang apa yang aku alami dan akupun memberitahukannya. Kemudian (kedua kalinya-red), aku berkata pada suatu malam yang lain seperti itu juga; aku memasuki Mekkah namun aku mengalami hal yang sama seperti malam sebelumnya; lantas aku bertekad, untuk tidak akan berkeinginan jelek sedikitpun”. (Sirah Al Mubarakfury)

Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam Cinta Al Qur’an

Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam Cinta Al Qur’an Cara Turunnya Wahyu Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Hisyam bin 'Urwah dari bapaknya dari Aisyah Ibu Kaum Mu'minin, bahwa Al Harits bin Hisyam bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:"Wahai Rasulullah, bagaimana caranya wahyu turun kepada engkau?" Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Terkadang datang kepadaku seperti suara gemerincing lonceng dan cara ini yang paling berat buatku, lalu terhenti sehingga aku dapat mengerti apa yang disampaikan. Dan terkadang datang Malaikat menyerupai seorang laki-laki lalu berbicara kepadaku maka aku ikuti apa yang diucapkannya". Aisyah berkata: "Sungguh aku pernah melihat turunnya wahyu kepada Beliau shallallahu 'alaihi wasallam pada suatu hari yang sangat dingin lalu terhenti, dan aku lihat dahi Beliau mengucurkan keringat." (HR. Bukhari) Cara Nabi Menerima Wahyu Sebelum beranjak ke penjelasan detail mengenai kehidupan di bawah naungan risalah dan nubuwwah, kami melihat perlu kita mengetahui urutan kronologi turunnya wahyu yang merupakan sumber risalah dan tinta dakwah. Ibnu al-Qayyim berkata, ketika menyinggung urutan kronologi turunnya wahyu tersebut: Pertama, berupa ar-Ru’ya ash-Shaadiqah (mimpi yang benar); ini merupakan permulaan turunnya wahyu kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kedua, berupa sesuatu yang ditimbulkan oleh malaikat terhadap rau’ (hati yang ketakutan, akal) dan hatinya tanpa dapat melihatnya; hal ini sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam : “Sesungguhnya Ruhul Qudus (malaikat Jibril ‘alaihissalam) menghembuskan ke dalam hatiku (yang diliputi ketakutan) bahwasanya jiwa tidak akan mati hingga disempurnakan rizki baginya. Oleh karena itu, bertakwalah kalian kepada Allah, berindah-indahlah dalam meminta serta janganlah keterlambatan rizki atas kalian mendorong kalian untuk memintanya dengan cara melakukan perbuatan maksiat kepadaNya, karena sesungguhnya apa yang ada disisi Allah tidak akan didapat kecuali dengan berbuat ta’at kepadaNya”. Ketiga, berupa malaikat yang berwujud seorang laki-laki; lantas dia mengajak beliau berbicara hingga mengingat dengan jelas apa yang dikatakan kepadanya. Dalam urutan ini, terkadang para shahabat melihat malaikat tersebut. Keempat, berupa bunyi gemerincing lonceng yang datang kepada beliau; peristiwa ini merupakan pengalaman yang paling berat bagi beliau dimana malaikat memakai cara ini hingga membuat keningnya mengerut bersimbah peluh. Ini terjadi di hari yang amat dingin. Demikian pula, mengakibatkan onta beliau duduk bersimpuh ke bumi bila beliau menungganginya. Dan pernah juga wahyu datang seperti kondisi tersebut dan saat itu paha beliau ditaruh diatas paha Zaid bin Tsabit yang seketika dirasakan olehnya (Zaid) demikian berat sehingga hampir saja remuk. Kelima, berupa malaikat dalam bentuk aslinya yang dilihat langsung oleh beliau, lalu diwahyukan kepada beliau beberapa wahyu yang dikehendaki oleh Allah; peristiwa seperti ini dialami oleh beliau sebanyak dua kali sebagaimana disebutkan oleh Allah dalam surat an-Najm. Keenam, berupa wahyu yang diwahyukan kepada beliau; yaitu saat beliau berada diatas lelangit pada malam mi’raj , diantaranya ketika diwajibkannya shalat dan lainnya. Ketujuh, berupa Kalamullah kepada beliau (dariNya kepadanya) tanpa perantaraan malaikat sebagaimana Allah berbicara kepada Musa bin ‘Imran; peristiwa seperti ini terjadi dan diabadikan secara qath’i berdasarkan nash al-Qur’an. Sedangkan terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam terjadi dalam hadits yang berbicara tentang Isra’ . Sebagian para ulama menambah urutannya menjadi delapan, yaitu; Allah berbicara kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam secara langsung tanpa hijab; ini merupakan permasalahan yang diperdebatkan oleh ulama Salaf dan Khalaf. Demikian, sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnu al-Qayyim dengan sedikit diringkas dalam penjelasan tentang urutan pertama dan kedelapan. Pendapat yang benar, bahwa urutan terakhir ini (kedelapan) tidak tsabit (valid dan dipercaya keabsahan riwayatnya-red). (Sirah Al Mubarakfury) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam Cinta Al Qur'an Kecintaan kepada wahyu Dari Anas bin Malik RA, dia berkata, "Ketika turun ayat Al Qur'an, 'Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu hingga ayat yang berbunyi, 'Dan yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Allah.' hal itu memang ada hubungannya dengan Hudaibiyah. Semula mereka merasa sedih dan gelisah tetapi Rasulullah sempat menyembelih hewan kurban di situ. Setelah itu beliau bersabda, 'Sesungguhnya ada satu ayat yang diturunkan Allah kepadaku yang lebih aku sukai daripada seluruh isi dunia." (HR. Muslim) Rasulullah Sedih karena Wahyu Terputus Dalam kitab At Ta’bir, imam Bukhari meriwayatkan,”Berdasarkan informasi yang sampai kepada kami, wahyu pun mengalami masa vakum sehingga membuat Nabi sedih dan berulang kali berlari kencang agar dapat terjerembab dari puncak-puncak gunung, namun setiap beliau mencapai puncak gunung untuk mencampakkan dirinya, malaikat Jibril menampakkan wujudnya seraya berkata, ‘Wahai Muhammad! Sesungguhnya engkau adalah benar-benar utusan Allah!’ Spirit ini dapat menenangkan dan menstabilkan kembali jiwa beliau, lalu beliau pulang. Namun manakala masa vakum itu masih terus berlanjut beliau pun mengulangi tindakan sebagaimana sebelumnya; dan ketika dia mencapai puncak gunung, malaikat Jibril kembali menampakkan wujudnya dan berkata kepadanya seperti sebelumnya.” (Siroh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri) Dari Al Aswad bin Qais bahwasanya ia berkata, "Saya pernah mendengar Jundab bin Sufyan RA berkata, 'Suatu ketika Rasululllah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sakit sehingga beliau tidak bangun untuk melaksanakan shalat Tahajjud selama dua atau tiga malam. Lalu seorang wanita datang mengunjungi beliau seraya berkata, 'Hai Muhammad, saya benar-benar berharap agar syetanmu meninggalkanmu yang sejak dua atau tiga malam saya tidak melihatnya di dekatmu." Al Aswad berkata, "Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan ayat Al Qur'an: Demi waktu Dhuha dan demi waktu malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tidaklah meninggalkanmu dan tidak pula membencimu. (Qs. Adh-Dhuhaa(93): 1-3) (HR. Muslim) Ibnu Abu Umar menceritakan kepada kami, Sufyan bin Uyaynah menceritakan kepada kami dan Al Aswad bin Qais, dari Jundab Al Bajali, ia berkata: Aku pemah bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam dalam sebuah goa, kemudian jari tangan beliau berdarah. Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam kemudian bersabda, "Apakah engkau hanya sebuah jari yang (hanya dapat) berdarah, sedang terhadap jalan Allah engkau tidak (dapat) menemukan?" Malaikat Jibril —alaihi salam— kemudian terlambat datang, sehingga orang-orang musyrik berkata, "Sesungguhnya Muhammad telah ditinggalkan." Allah —Ta'ala— kemudian menurunkan (ayat): 'Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu.' (Qs. Adh-Dhuhaa [93]: 3) (HR. Bukhari dan Muslim) Membaca Al Qur’an Hingga Selesai Dari Aus bin Hudzaifah dia berkata,”Kami menemui Rasulullah dalam rombongan utusan bani Tsaqif. Kami menginap di tempat Al Mughirah bin syu’bah sedang Nabi berada di kemah beliau di Bani Malik. Setiap malam beliau menemui kami selepas isya dan berbicara dengan kami sambil berdiri, sampai kaki beliau kecapaian karena lamanya berdiri. Beliau banyak bercerita tentang apa yang beliau alami karena ulah kaumnya Quraisy. Kemudian beliau bersabda,”Namun aku tidak putus asa. Memang kami dulu lemah dan kalah selagi di Mekah. Lalu setelah kami pergi ke Madinah, maka di antara kami berkobar peperangan. Kadang kami mengalahkan mereka dan kadang mereka mengalahkan kami.”Suatu malam beliau terlambat dari waktu biasanya dalam menemui kami. Setelah beliau datang dan kami bertanya,”Ada apa engkau terlambat menemui kami?” Beliau menjawab,”tadi aku membaca 2 juz Al Qur’an. Sementara aku tidak ingin menemui kalian sebelum aku menyelesaikannya” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah) Membaca Surat Al Fath Berulang Bukhari meriwayatkan dari Mu‘awiya bin Qurah ra, ia berkata :“Aku pernah mendengar Abdullah bin Mughaffal berkata : Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pada waktu fat-hu Makkah berada di atas untanya, seraya membaca surat Al-Fath berulang-ulang dengan bacaan yang merdu sekali. Sabda beliau : Seandainya orang-orang tidak berkerumun di sekitarku niscaya aku akan membacanya berulang-ulang. (Siroh Al Buthy) Mendengarkan Al Qur’an Dari Anas bin Malik, dia berkata,”Abu Musa Al Asy’ary biasa duduk di rumahnya lalu banyak orang yang datang dan berkumpul di sekelilingnya. Setelah itu dia membacakan Al Qur’an kepada mereka.Ada seseorang yang menemui Rasulullah seraya berkata,”Wahai Rasulullah, apakah engkau tidak takjub terhadap Abu Musa yang duduk di rumahnya dan orang-orang duduk di sekelilingnya, lalu dia membacaka Al Qur’an kepada mereka?” “Apakah engkau bisa menyusupkan aku ke tengah mereka tanpa diketahui seorang pun?” tanya beliau. “Bisa,” jawab orang itu. Maka beliau pergi dan bergabung bersama mereka, tanpa diketahui seorangpun. Beliau mendengar bacaan Abu Musa dengan seksama, lalu bersabda,”Dia membacakan menurut salah satu kitab Zabur pengikut Daud.” (HR. Abu Ya’la) Menangis Mendengar Al Qur’an Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu mengatakan; suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Bacakanlah al-Qur’an kepadaku.” Maka kukatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah saya bacakan al-Qur’an kepada anda sementara al-Qur’an itu diturunkan kepada anda?”. Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya aku senang mendengarnya dibaca oleh selain diriku.” Maka akupun mulai membacakan kepadanya surat an-Nisaa’. Sampai akhirnya ketika aku telah sampai ayat ini (yang artinya), “Lalu bagaimanakah ketika Kami datangkan saksi bagi setiap umat dan Kami jadikan engkau sebagai saksi atas mereka.” (QS. an-Nisaa’ : 40). Maka beliau berkata, “Cukup, sampai di sini saja.” Lalu aku pun menoleh kepada beliau dan ternyata kedua mata beliau mengalirkan air mata.” (HR. Bukhari [4763] dan Muslim [800]). Mendoakan Pembaca Al Qur’an Dari Aisyah ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mendengar seseorang membaca suatu surat di malam hari, maka beliau pun bersabda: "Semoga Allah merahmati si Fulan, sungguh, ia telah mengingatkanku ayat ini dan ini aku telah dilupakan dari surat ini dan ini." (HR. Bukhari) Mendahulukan Jenazah Penghafal Qur’an Selang sekian lama pertempuran di antara kedua belah pihak pun mulai mereda, dan berakhir. Kaum Musyrikin mulai meninggalkan medan pertempuran dengan rasa bangga atas kemenangan yang diraihnya. Sementara itu kaum Muslimin terkejut melihat para sahabat yang berguguran di antaranya Hamzah bin Abdul Muttalib, Al Yaman, Anas bin Nadhar, Mush‘ab bin Umair dan lainnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sendiri sangat berduka cita atas kematian pamannya, Hamzah bin Abdul Muttalib, apalagi setelah melihat mayatnya yang dibedah perutnya dan diiris hidung serta telinganya oleh musuh. Selanjutnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menguburkan mayat-mayat itu dua-dua dalam satu kain lalu bertanya :“Siapakah yang paling banyak hafal al-Quran ?“ Setelah diberitahukan lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memasukkannya lebih dahulu ke liang lahat. Sesudah itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam besabda :“Aku menjadi saksi bagi mereka pada Hari Kiamat.“ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memerintahkan agar mereka dikuburkan berikut pakaian dan darah mereka apa adanya, dengan tidak perlu dimandikan dan dishalatkan. (Siroh Al Buthy) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan Al Qur'an Membaca Qur’an dengan tartil Qatadah ia berkata; Aku pernah bertanya kepada Anas bin Malikmengenai bacaan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka ia pun menjawab, "Bacaan beliau adalah memanjangkan sehingga bisa dibaca." (HR. Bukhari) Membaca Al Qur’an Dengan Suara Pertengahan Dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma mengenai firman Allah: "dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya…, " (Al Israa: 110). Ibnu Abbas berkata; ayat ini turun ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sembunyi-sembunyi di Makkah. Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bila mengimami shalat para sahabatnya, beliau mengeraskannya saat membaca al Qur`an. Tatkala orang-orang musyrik mendengarkan hal itu, mereka mencela al Qur`an, mencela yang menurunkannya dan yang membawakannya. Maka Allah Azza Wa Jalla berfirman kepada NabiNya: (Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu) maksudnya adalah dalam bacaanmu sehingga orang-orang musyrik mendengarnya dan mereka mencela al Qu`ran dan: Dan janganlah pula merendahkannya dari para sahabatmu sehingga mereka tidak dapat mendengarkan dan mengambil Al Qu`ran darimu dan: Maka carilah jalan tengah di antara kedua itu. (HR. Bukhari) Membacakan Ayat Untuk Orang Lain Dari Anas bin Malik RA, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah bersabda kepada Ubay bin Ka'ab,'Hai Ubay, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memerintahkanku untuk membacakan surah Al Bayyinah kepadamu.' Ubay bertanya, "Apakah Allah telah menyebutkan nama saya kepada engkau ya Rasulullah?" Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menjawab, "Ya." Anas berkata, "Lalu Ubay langsung menangis." (HR. Muslim) Membaca Al Qur’an Di Pangkuan Istri Yang Haidh 'Aisyah menceritakan kepadanya,"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyandarkan badannya di pangkuanku membaca Al Qur'an, padahal saat itu aku sedang haid." (HR. Bukhari) Mempelajari Al Qur’an Dengan Istri Dari Aisyah, katanya: Saya berkata, "Wahai Rasulullah, saya tahu ayat yang paling menyenangkan dalam Al Qur'an," beliau menjawab, "Ayat apa itu hai Aisyah? " Aisyah berkata, "Yaitu Firman Allah SWT, "Siapa yang melakukan kejahatan maka ia akan dibalasnya" (Qs. An-Nisaa [4]: 123) Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, "Wahai Aisyah, tidakkah kamu tahu bahwa seorang mukmin kadang ditimpa bencana atau penderitaan sehingga ia melakukan perbuatan yang buruk. Siapa yang pemeriksaan amalnya lama, maka ia telah disiksa. "(HR. Abu Daud) Meningkatkan Membaca Al Qur'an Di Bulan Ramadhan Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma berkata:"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah orang yang paling lembut (dermawan) dalam segala kebaikan. Dan kelembutan Beliau yang paling baik adalah saat bulan Ramadhan ketika Jibril alaihissalam datang menemui Beliau. Dan Jibril Alaihissalam datang menemui Beliau pada setiap malam di bulan Ramadhan (untuk membacakan Al Qur'an) hingga Al Qur'an selesai dibacakan untuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Apabila Jibril Alaihissalam datang menemui Beliau, maka Beliau adalah orang yang paling lembut dalam segala kebaikan melebihi lembutnya angin yang berhembus". (HR. Bukhari) Menghafal Al Qur’an Dengan Tenang Dari Ibnu 'Abbas tentang firman Allah Ta'ala: (Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat ingin (menguasainya)." Berkata Ibnu 'Abbas: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sangat kuat keinginannya untuk menghafalkan apa yang diturunkan (Al Qur'an) dan menggerak-gerakkan kedua bibir Beliau." Berkata Ibnu 'Abbas: "aku akan menggerakkan kedua bibirku (untuk membacakannya) kepada kalian sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melakukannya kepadaku". Berkata Sa'id: "Dan aku akan menggerakkan kedua bibirku (untuk membacakannya) kepada kalian sebagaimana aku melihat Ibnu 'Abbas melakukannya. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menggerakkan kedua bibirnya, Kemudian turunlah firman Allah Ta'ala: Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai) nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya". Maksudnya Allah mengumpulkannya di dalam dadamu (untuk dihafalkan) dan kemudian kamu membacanya: "Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu". Maksudnya: "Dengarkanlah dan diamlah". Kemudian Allah Ta'ala berfirman: "Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya. Maksudnya: "Dan Kewajiban Kamilah untuk membacakannya" Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sejak saat itu bila Jibril 'Alaihis Salam datang kepadanya, Beliau mendengarkannya. Dan bila Jibril 'Alaihis Salam sudah pergi, maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membacakannya (kepada para sahabat) sebagaimana Jibril 'Alaihis Salam membacakannya kepada Beliau shallallahu 'alaihi wasallam (HR. Bukhari) Sikap Kafir Quraisy Terhadap Al Qur'an Orang Kafir Menghalangi orang agar tidak dapat mendengarkan al-Qur’an Disebutkan bahwa an-Nadhar bin al-Harits pergi ke Hirah. Disana dia belajar cerita-cerita tentang raja-raja Persia, cerita-cerita tentang Rustum dan Asvandiar. Jika Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam sedang duduk-duduk di suatu majlis dalam rangka berwasiat kepada Allah dan mengingatkan manusia akan pembalasan-Nya, maka seusai beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam melakukan hal itu; an-Nadhar berbicara kepada orang-orang sembari berkata: “Demi Allah! ucapan Muhammad tersebut tidaklah lebih baik dari ucapanku ini”. Kemudian dia mengisahkan kepada mereka tentang cerita raja-raja Persia, Rustum dan Asvandiar. Setelah itu, dia berceloteh: “Kalau begitu, bagaimana bisa ucapan Muhammad lebih bagus dari ucapanku ini?”. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas disebutkan bahwa an-Nadhar membeli seorang budak perempuan. Maka, setiap dia mendengarkan ada seseorang yang tertarik terhadap Islam, dia segera menggandengnya menuju budak perempuannya tersebut, lalu berkata (kepada budak perempuannya): “beri dia makan, minum dan penuhi kebutuhannya. Ini adalah lebih baik dari apa yang diajak oleh Muhammad kepadamu”. Maka turunlah ayat mengenai dirinya, Allah berfirman: “Dan diantara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah…”. (Q.S.31/Luqman: 6). Pengakuan Gembong Kafir Tentang Al Qur’an Abu Sufyan b. Harb, Abu Jahl b. Hisyam dan al-Akhnas b. Syariq malam itu pergi ingin mendengarkan Muhammad ketika sedang membaca Qur'an di rumahnya. Mereka masing-masing mengambil tempat sendiri-sendiri untuk mendengarkan, dan tempat satu sama lain tidak saling diketahui. Muhammad yang biasa bangun tengah malam, malam itu juga ia sedang membaca Qur'an dengan tenang dan damai. Dengan suaranya yang sedap itu ayat-ayat suci bergema ke dalam telinga dan kalbu. Tetapi sesudah fajar tiba, mereka yang mendengarkan itu terpencar pulang ke rumah masing-masing. Di tengah jalan, ketika mereka bertemu, masing-masing mau saling menyalahkan: Jangan terulang lagi. Kalau kita dilihat oleh orang-orang yang masih bodoh, ini akan melemahkan kedudukan kita dan mereka akan berpihak kepada Muhammad. Tetapi pada malam kedua, masing-masing mereka membawa perasaan yang sama seperti pada malam kemarin. Tanpa dapat menolak, seolah kakinya membawanya kembali ke tempat yang semalam itu juga, untuk mendengarkan lagi Muhammad membaca Qur'an. Hampir fajar, ketika mereka pulang, bertemu lagi mereka satu sama lain dan saling menyalahkan pula. Tetapi sikap mereka demikian itu tidak mengalangi mereka untuk pergi lagi pada malam ketiga. Setelah kemudian mereka menyadari, bahwa dalam menghadapi dakwah Muhammad itu mereka merasa lemah, berjanjilah mereka untuk tidak saling mengulangi lagi perbuatan mereka demikian itu. Apa yang sudah mereka dengar dari Muhammad itu, dalam jiwa mereka tertanam suatu kesan, sehingga mereka satu sama lain saling menanyakan pendapat mengenai yang sudah mereka dengar itu. Dalam hati mereka timbul rasa takut. Mereka kuatir akan jadi lemah, mengingat masing-masing adalah pemimpin masyarakat, sehingga dikuatirkan masyarakatnyapun akan jadi lemah pula dan menjadi pengikut Muhammad juga. (Siroh Muhammad Husain Haikal) Suatu ketika, tiga orang tokoh Quraisy berkumpul. Masing-masing dari mereka ternyata sudah pernah mendengarkan Al Qur’an secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui oleh dua temannya yang lain, namun kemudian rahasia itu tersingkap. Salah seorang dari mereka bertanya kepada Abu Jahal-yang merupakan salah seorang dari ketiga orang tersebut,”Bagaimana pendapatmu mengenai apa yang engkau dengar dari Muhammad tersebut?” “Apa yang telah aku dengar? Memang, kami telah berselisih dengan Bani Abdi Manaf dalam persoalan derajat sosial, manakala mereka makan, kami pun makan; mereka menanggung sesuatu, kami pun ikut menanggungnya; mereka memberi, kami pun memberi hingga akhirnya kami seaar di atas tunggangan yang sama. Dan ibarat dua orang yang bertarung secara seimbang, tiba-tiba mereka berkata,”Kami memiliki Nabi yang membawa wahyu dari langit!’ Kapan kami mengetahui hal ini? Demi Allah! Kami tidak akan beriman sama sekali kepadanya dan tidak akan membenarkannya.” (Siroh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri) Al Qur’an Lebih Baik Dari Kata Hikmah Suwaid bin'sh-Shamit adalah seorang bangShallallahu ‘alaihi Wasallaman terkemuka di Yathrib. Karena ketabahannya, pengetahuannya, kebangShallallahu ‘alaihi Wasallamanan dan keturunannya, masyarakatnya sendiri menamakannya al-Ramil (yang sempurna). Pada waktu membicarakan ini Suwaid sedang berada di Mekah berziarah. Muhammad lalu menemuinya dan diajaknya ia mengenal Tuhan dan menganut Islam. "Barangkali yang ada padamu itu sama dengan yang ada padaku," kata Suwaid. "Apa yang ada padamu?" tanya Muhammad. "Kata-kata mutiara oleh Luqman." Lalu Muhammad minta supaya hal itu dikemukakan. "Memang itu kata-kata yang baik," kata Muhammad setelah oleh Suwaid dikemukakan. "Tapi yang ada padaku lebih utama tentunya, yaitu Qur'an sebagai bimbingan dan cahaya." Lalu dibacakannya ayat-ayat Qur'an itu kepadanya disertai ajakan agar ia sudi menerima Islam. Gembira sekali Suwaid mendengar ini. "Memang baik sekali ini," katanya. Lalu ia pergi hendak memikirkan hal tersebut. Ada sementara orang yang berkata ketika ia dibunuh oleh Khazraj, bahwa ia mati sebagai Muslim. Peristiwa Suwaid b. Shamit ini bukan contoh satu-satunya yang menunjukkan adanya pengaruh Yahudi dan Arab di Yathrib yang bertetangga itu, dari segi rohani. (Siroh Muhammad Husain Haikal) Kenapa Al Qur’an Tidak Diturunkan Kepada Kami? Atau seperti kata al-Walid bin'l-Mughira: "Wahyu didatangkan kepada Muhammad, bukan kepadaku, padahal aku kepala dan pemimpin Quraisy. Juga tidak kepada Abu Mas'ud 'Amr b. 'Umair ath-Thaqafi sebagai pemimpin Thaqif. Kami adalah pembesar-pembesar dua kota." Untuk itulah firman Tuhan memberi isyarat: "Dan mereka berkata: 'Kenapa Qur'an ini tidak diturunkan kepada orang besar dari dua kota itu?' Adakah mereka membagi-bagikan kurnia Tuhanmu? Kamilah yang membagikan penghidupan mereka itu, dalam hidup dunia ini." (Qur'an 43: 13-32) (Siroh Muhammad Husain Haikal)

Akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam

Akhlak Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam Akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam Sifat Rasulullah Aisyah radhiyallahu 'anha menuturkan: Rasulullah bukanlah seorang yang keji dan tidak suka berkata keji, beliau bukan seorang yang suka berteriak-teriak di pasar dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Bahkan sebaliknya, beliau suka memaafkan dan merelakan. (HR. Ahmad) Kesaksian Husein bin Ali Tentang Akhlak Rasulullah Al-Husein cucu beliau menuturkan keluhuran budi pekerti beliau. Ia berkata: "Aku bertanya kepada ayahku tentang adab dan etika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam terhadap orang-orang yang bergaul dengan beliau, ayahku menuturkan: "Beliau shallallahu 'alaihi wasallam senantiasa tersenyum, luhur budi pekerti lagi rendah hati, beliau bukanlah seorang yang kasar, tidak suka berteriak-teriak, bukan tukang cela, tidak suka mencela makanan yang tidak disukainya. Siapa saja yang mengharapkanya pasti tidak akan kecewa dan siapa saja yang memenuhi undangannya pasti akan senantiasa puas. Beliau meninggalkan tiga perkara: "riya', berbangga-bangga diri dan hal yang tidak bermanfaat." Dan beliau menghindarkan diri dari manusia karena tiga perkara: "beliau tidak suka mencela atau memaki orang lain, beliau tidak suka mencari-cari aib orang lain, dan beliau hanya berbicara untuk suatu maslahat yang bernilai pahala." Jika beliau berbicara, pembicaraan beliau membuat teman-teman duduknya tertegun, seakan-akan kepala mereka dihinggapi burung (karena khusyuknya). Jika beliau diam, barulah mereka berbicara. Mereka tidak pernah membantah sabda beliau. Bila ada yang berbicara di hadapan beliau, mereka diam memperhatikannya sampai ia selesai bicara. Pembicaraan mereka disisi beliau hanyalah pembicaraan yang bermanfaat saja. Beliau tertawa bila mereka tertawa. Beliau takjub bila mereka takjub, dan beliau bersabar menghadapi orang asing yang kasar ketika berbicara atau ketika bertanya sesuatu kepada beliau, sehingga para sahabat shallallahu 'alaihi wasallam selalu mengharapkan kedatangan orang asing seperti itu guna memetik faedah. Beliau bersabda: "Bila engkau melihat seseorang yang sedang mencari kebutuhannya, maka bantulah dia." Beliau tidak mau menerima pujian orang kecuali menurut yang selayaknya. Beliau juga tidak mau memutuskan pembicaraan seeorang kecuali orang itu melanggar batas, beliau segera menghentikan pembicaraan tersebut dengan melarangnya atau berdiri meninggalkan majlis." (HR. At-Tirmidzi) Kesaksian Anas Tentang Akhlak Rasulullah Dari Anas RA, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam adalah orang yang paling baik akhlaknya. Pada suatu hari, beliau mengutus saya untuk suatu keperluan. Maka saya berkata, 'Saya tidak akan pergi', tetapi dalam hati saya mengatakan bahwasanya saya akan pergi untuk melaksanakan perintah Rasulullah itu. Kemudian saya keluar dan melewati anak-anak yang sedang bermain di pasar. Tiba-tiba Rasulullah menepuk pundak saya dari belakang. Anas berkata,"Saya melihat Rasulullah tersenyum kepada saya dan berkata, 'Hai Unais, apakah kamu sudah pergi untuk melaksanakan apa yang aku perintahkan kepadamu?' Anas menjawab, "Ya. Saya akan pergi untuk melaksanakannya ya Rasulullah." Anas berkata, "Demi Allah, sembilan tahun lamanya saya mengabdi kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan tidak pernah saya dapatkan beliau menegur saya atas apa yang saya kerjakan dengan ucapan, 'Mengapa kamu tidak melakukan begini dan begitu?' ataupun terhadap apa yang tidak saya laksanakan dengan perkataan, 'Begini dan begini.'" (HR. Muslim) Kesaksian Abu Sufyan Tentang Akhlak Rasulullah Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman Al Hakam bin Nafi' dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhri telah mengabarkan kepadaku Ubaidullah bin Abdullah bin 'Utbah bin Mas'ud bahwa Abdullah bin 'Abbas telah mengabarkan kepadanya bahwa Abu Sufyan bin Harb telah mengabarkan kepadanya; bahwaHeraclius menerima rombongan dagang Quraisy, yang sedang mengadakan ekspedisi dagang ke Negeri Syam pada saat berlakunya perjanjian antara Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy. Saat singgah di Iliya' mereka menemui Heraclius atas undangan Heraclius untuk di diajak dialog di majelisnya, yang saat itu Heraclius bersama dengan para pembesar-pembesar Negeri Romawi. Heraclius berbicara dengan mereka melalui penerjemah. Heraclius berkata; "Siapa diantara kalian yang paling dekat hubungan keluarganya dengan orang yang mengaku sebagai Nabi itu?." Abu Sufyan berkata; maka aku menjawab; "Akulah yang paling dekat hubungan kekeluargaannya dengan dia". Heraclius berkata; "Dekatkanlah dia denganku dan juga sahabat-sahabatnya." Maka mereka meletakkan orang-orang Quraisy berada di belakang Abu Sufyan. Lalu Heraclius berkata melalui penerjemahnya: "Katakan kepadanya, bahwa aku bertanya kepadanya tentang lelaki yang mengaku sebagai Nabi. Jika ia berdusta kepadaku maka kalian harus mendustakannya."Demi Allah, kalau bukan rasa malu akibat tudingan pendusta yang akan mereka lontarkan kepadaku niscaya aku berdusta kepadanya." Abu Sufyan berkata; Maka yang pertama ditanyakannya kepadaku tentangnya (Nabi shallallahu 'alaihi wasallam) adalah: "bagaimana kedudukan nasabnya ditengah-tengah kalian?" Aku jawab: "Dia adalah dari keturunan baik-baik (bangShallallahu ‘alaihi Wasallaman) ". Tanyanya lagi: "Apakah ada orang lain yang pernah mengatakannya sebelum dia?" Aku jawab: "Tidak ada". Tanyanya lagi: "Apakah bapaknya seorang raja?" Jawabku: "Bukan". Apakah yang mengikuti dia orang-orang yang terpandang atau orang-orang yang rendah?" Jawabku: "Bahkan yang mengikutinya adalah orang-orang yang rendah". Dia bertanya lagi: "Apakah bertambah pengikutnya atau berkurang?" Aku jawab: "Bertambah". Dia bertanya lagi: "Apakah ada yang murtad disebabkan dongkol terhadap agamanya?" Aku jawab: "Tidak ada". Dia bertanya lagi: "Apakah kalian pernah mendapatkannya dia berdusta sebelum dia menyampaikan apa yang dikatakannya itu?" Aku jawab: "Tidak pernah". Dia bertanya lagi: "Apakah dia pernah berlaku curang?" Aku jawab: "Tidak pernah. Ketika kami bergaul dengannya, dia tidak pernah melakukan itu". Berkata Abu Sufyan: "Aku tidak mungkin menyampaikan selain ucapan seperti ini". Dia bertanya lagi: "Apakah kalian memeranginya?" Aku jawab: "Iya". Dia bertanya lagi: "Bagaimana kesudahan perang tersebut?" Aku jawab: "Perang antara kami dan dia sangat banyak. Terkadang dia mengalahkan kami terkadang kami yang mengalahkan dia". Dia bertanya lagi: "Apa yang diperintahkannya kepada kalian?" Aku jawab: "Dia menyuruh kami; 'Sembahlah Allah dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan tinggalkan apa yang dikatakan oleh nenek moyang kalian. ' Dia juga memerintahkan kami untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, berkata jujur, saling memaafkan dan menyambung silaturrahim". Maka Heraclius berkata kepada penerjemahnya: "Katakan kepadanya, bahwa aku telah bertanya kepadamu tentang keturunan orang itu, kamu ceritakan bahwa orang itu dari keturunan bangShallallahu ‘alaihi Wasallaman. Begitu juga laki-laki itu dibangkitkan di tengah keturunan kaumnya. Dan aku tanya kepadamu apakah pernah ada orang sebelumnya yang mengatakan seperti yang dikatakannya, kamu jawab tidak. Seandainya dikatakan ada orang sebelumnya yang mengatakannya tentu kuanggap orang ini meniru orang sebelumnya yang pernah mengatakan hal serupa. Aku tanyakan juga kepadamu apakah bapaknya ada yang dari keturunan raja, maka kamu jawab tidak. Aku katakan seandainya bapaknya dari keturunan raja, tentu orang ini sedang menuntut kerajaan bapaknya. Dan aku tanyakan juga kepadamu apakah kalian pernah mendapatkan dia berdusta sebelum dia menyampaikan apa yang dikatakannya, kamu menjawabnya tidak. Sungguh aku memahami, kalau kepada manusia saja dia tidak berani berdusta apalagi berdusta kepada Allah. Dan aku juga telah bertanya kepadamu, apakah yang mengikuti dia orang-orang yang terpandang atau orang-orang yang rendah?" Kamu menjawab orang-orang yang rendah yang mengikutinya. Memang mereka itulah yang menjadi para pengikut Rasul. Aku juga sudah bertanya kepadamu apakah bertambah pengikutnya atau berkurang, kamu menjawabnya bertambah. Dan memang begitulah perkara iman hingga menjadi sempurna. Aku juga sudah bertanya kepadamu apakah ada yang murtad disebabkan marah terhadap agamanya. Kamu menjawab tidak ada. Dan memang begitulah iman bila telah masuk tumbuh bersemi di dalam hati. Aku juga sudah bertanya kepadamu apakah dia pernah berlaku curang, kamu jawab tidak pernah. Dan memang begitulah para Rasul tidak mungkin curang. Dan aku juga sudah bertanya kepadamu apa yang diperintahkannya kepada kalian, kamu jawab dia memerintahkan kalian untuk menyembah Allah dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan melarang kalian menyembah berhala, dia juga memerintahkan kalian untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, berkata jujur, saling memaafkan dan menyambung silaturrahim. Seandainya semua apa yang kamu katakan ini benar, pasti dia akan menguasai kerajaan yang ada di bawah kakiku ini. Sungguh aku telah menduga bahwa dia tidak ada diantara kalian sekarang ini, seandainya aku tahu jalan untuk bisa menemuinya, tentu aku akan berusaha keras menemuinya hingga bila aku sudah berada di sisinya pasti aku akan basuh kedua kakinya. Kemudian Heraclius meminta surat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang dibawa oleh Dihyah untuk para Penguasa Negeri Bashrah, Maka diberikannya surat itu kepada Heraclius, maka dibacanya dan isinya berbunyi: "Bismillahir rahmanir rahim. Dari Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya untuk Heraclius. Penguasa Romawi, Keselamatan bagi siapa yang mengikuti petunjuk. Kemudian daripada itu, aku mengajakmu dengan seruan Islam; masuk Islamlah kamu, maka kamu akan selamat, Allah akan memberi pahala kepadamu dua kali. Namun jika kamu berpaling, maka kamu menanggung dosa rakyat kamu, dan: Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Rabb selain Allah". Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." Abu Sufyan menuturkan: "Setelah Heraclius menyampaikan apa yang dikatakannya dan selesai membaca surat tersebut, terjadilah hiruk pikuk dan suara-suara ribut, sehingga mengusir kami. Aku berkata kepada teman-temanku setelah kami diusir keluar; "sungguh dia telah diajak kepada urusan Anak Abu Kabsyah. Heraclius mengkhawatirkan kerajaan Romawi."Pada masa itupun aku juga khawatir bahwa Muhammad akan berjaya, sampai akhirnya (perasaan itu hilang setelah) Allah memasukkan aku ke dalam Islam. Dan adalah Ibnu An Nazhur, seorang Pembesar Iliya' dan Heraclius adalah seorang uskup agama Nashrani, dia menceritakan bahwa pada suatu hari ketika Heraclius mengunjungi Iliya' dia sangat gelisah, berkata sebagian komandan perangnya: "Sungguh kami mengingkari keadaanmu. Selanjutnya kata Ibnu Nazhhur, "Heraclius adalah seorang ahli nujum yang selalu memperhatikan perjalanan bintang-bintang. Dia pernah menjawab pertanyaan para pendeta yang bertanya kepadanya; "Pada suatu malam ketika saya mengamati perjalanan bintang-bintang, saya melihat raja Khitan telah lahir, siapakah di antara ummat ini yang di khitan?" Jawab para pendeta; "Yang berkhitan hanyalah orang-orang Yahudi, janganlah anda risau karena orang-orang Yahudi itu. Perintahkan saja keseluruh negeri dalam kerajaan anda, supaya orang-orang Yahudi di negeri tersebut di bunuh." Ketika itu di hadapakan kepada Heraclius seorang utusan raja Bani Ghasssan untuk menceritakan perihal Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, setelah orang itu selesai bercerita, lalu Heraclius memerintahkan agar dia diperiksa, apakah dia berkhitan ataukah tidak. Seusai di periksa, ternyata memang dia berkhitam. Lalu di beritahukan orang kepada Heraclius. Heraclius bertanya kepada orang tersebut tentang orang-orang Arab yang lainnya, di khitankah mereka ataukah tidak?" Dia menjawab; "Orang Arab itu di khitan semuanya." Heraclius berkata; 'inilah raja ummat, sesungguhnya dia telah terlahir." Kemudian heraclisu berkirim surat kepada seorang sahabatnya di Roma yang ilmunya setarf dengan Heraclisu (untuk menceritakan perihal kelahiran Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam). Sementara itu, ia meneruskan perjalanannya ke negeri Himsha, tetapi sebelum tiba di Himsha, balasan surat dari sahabatnya itu telah tiba terlebih dahulu. Sahabatnya itu menyetujui pendapat Heraclius bahwa Muhammad telah lahir dan bahwa beliau memang seorang Nabi. Heraclius lalu mengundang para pembesar Roma supaya datang ke tempatnya di Himsha, setelah semuanya hadir dalam majlisnya, Heraclius memerintahkan supaya mengunci semua pintu. Kemudian dia berkata; 'Wahai bangsa rum, maukah anda semua beroleh kemenangan dan kemajuan yang gilang gemilang, sedangkan kerajaan tetap utuh di tangan kita? Kalau mau, akuilah Muhammad sebagai Nabi!." Mendengar ucapan itu, mereka lari bagaikan keledai liar, padahal semua pintu telah terkunci. Melihat keadaan yang demikian, Heraclius jadi putus harapan yang mereka akan beriman (percaya kepada kenabian Muhammad). Lalu di perintahkannya semuanya untuk kembali ke tempatnya masing-masing seraya berkata; "Sesungguhnya saya mengucapkan perkataan saya tadi hanyalah sekedar menguji keteguhan hati anda semua. Kini saya telah melihat keteguhan itu." Lalu mereka sujud di hadapan Heraclius dan mereka senang kepadanya. Demikianlah akhir kisah Heraclius. Telah di riwayatkan oleh Shalih bin Kaisan dan Yunus dan Ma'mar dari Az Zuhri.(HR. Bukhari)

Kejujuran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam

Kejujuran RASULULLAH Salallahu Alaihi Wassalam Kejujuran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam Rasulullah Menyampaikan Apa Yang Beliau Terima Dari Masruq dia berkata; Aku bertanya kepada 'Aisyah radliallahu 'anhawahai Ibu, Apakah benar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah melihat Rabbnya? Aisyah menjawab; Sungguh rambutku berdiri (karena kaget) atas apa yang kamu katakan. Tiga perkara yang barang siapa mengatakannya kepadamu, maka sungguh ia telah berdusta. Barang siapa mengatakan kepadamu bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam pernah melihat Rabbnya, maka ia telah berdusta. Lalu Aisyah membaca ayat; Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Al An'am: 103). Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir. (As Syura: 51). Dan barang siapa yang mengatakan kepadamu bahwa beliau mengetahui apa yang akan terjadi pada hari esok maka ia telah berdusta. Lalu Aisyah membaca ayat; Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. (Luqman: 34). Dan barang siapa yang mengatakan kepadamu bahwa beliau menyembunyikan sesuatu, maka ia telah berdusta. Lalu Aisyah membaca ayat; Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. (Al Maidah; 67). Hanya saja beliau pernah melihat bentuk Jibril dua kali. (HR. Bukhari) Jujur Dalam Jual Beli Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah berjalan melewati onggokan makanan yang akan dijual. Lalu beliau memasukkan tangannya ke dalam onggokan itu, maka tanpa diduga sebelumnya, jari-jari tangan beliau menyentuh sesuatu yang basah. Kemudian beliau keluarkan jari-jarinya yang basah itu seraya bertanya, "Ada apa di dalamnya ini?" Orang yang mempunyai makanan tersebut menjawab, "Mungkin basah karena kehujanan ya Rasulullah?" Lalu Rasulullah pun bertanya lagi kepadanya,"Mengapa tidak kamu letakkan yang basah itu di atas agar supaya dapat diketahui orang lain? Barang siapa yang menipu, maka ia bukan termasuk umatku" (HR. Muslim) Kejujuran Dalam Berdagang Ketika hendak berangkat ke Madinah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam mengangkat seorang dari Anshar, Shallallahu ‘alaihi Wasallamwab bin Ghazayyah dari suku Adi, sebagai wakilnya di Khaibar. Kemudian Shallallahu ‘alaihi Wasallamwad membawa buah korma yang paling baik (janib) dan diberikannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bertanya :“Apakah semua korma Khaibar seperti ini ? Ia menjawab : „Tidak wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam . Kami tukarkan dua atau tiga gantang korma yang agak jelek (jam) dengan satu gantang korma yang bagus ini. Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :“Jangan kamu lakukan (cara itu). Juallah korma ynag agak jelek itu terlebih dahulu kemudian dengan uang itu belilah korma ynag bagus. (Siroh Al Buthy) Bisnis Dengan Kejujuran Dengan kejujuran dan kemampuannya ternyata Muhammad mampu benar memperdagangkan barang-barang Khadijah, dengan cara perdagangan yang lebih banyak menguntungkan daripada yang dilakukan orang lain sebelumnya. Demikian juga dengan karakter yang manis dan perasaannya yang luhur ia dapat menarik kecintaan dan penghormatan Maisara kepadanya. Setelah tiba waktunya mereka akan kembali, mereka membeli segala barang dagangan dari Syam yang kira-kira akan disukai oleh Khadijah. Dalam perjalanan kembali kafilah itu singgah di Marr'-z-Zahran. Ketika itu Maisara berkata: "Muhammad, cepat-cepatlah kau menemui Khadijah dan ceritakan pengalamanmu. Dia akan mengerti hal itu." (Siroh Muhammad Husain Haikal) Kejujuran Dalam Bercanda Subhanallah, sifat jujur Rasulullah tidak hanyatampak dalam kondisi seriusnamun juga saatbercanda.Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, bahwa datang seorang wanita yang sudah lansia menemui Rasulullah dan memohon agar didoakan masuk surga. Lantas Rasulullah menjawab, "Ya umma fulan, innal jannata la tadkhullah 'ajuzun, Wahai ibu, sungguh surga itu tidak akan dimasuki wanita tua". Kontan, wanita tua itu menangis. Kemudian Rasulullah berkata kembali,"Aku mendapat kabar bahwa tidak akan masuk surga wanita yang sudah tua, karena Allah mengatakan, "Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta dan sebaya umurmya."(Qs. Al-Waaqi'ah [56]: 35-37). Seketika itu juga wanita yang menangis tadi pun tersenyum, dan mengetauhi bahwa di dalam surga tidak ada lagi yang tua, semuanya dijadikan muda. (HR. Tirmidzi) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menepati janji Rasulullah Menunggu 3 Hari Rasulullah dikenal sebagai seorang Al Amin. Orang terpercaya yangselalu menepati janji dan melaksanakannya dengan baik. Abdullah bin Abi Khansa berkata, “Aku melakukan transaksi jual-beli dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam. sebelum beliau diutus, dan ada sisa barang yang belum aku berikan padanya, lalu aku menjanjikan padanya untuk memberikannya di tempatnya itu. Di hari yang telah ditentukan itu dan hari setelahnya ternyata aku lupa mendatanginya, aku datang pada hari yang ketiga, aku dapati beliaumasihberada di tempat itu. Beliau berkata, “Wahai Pemuda, kau telah menyusahkan aku, aku telah berada di sini selama tiga hari menunggumu”. ( HR.Abu Dawud ) Mengembalikan barang temuan Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad berkata, Telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin 'Amru Al 'Aqadi berkata, Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal Al Madini dari Rabi'ah bin Abu Abdurrahman dari Yazid mantan budak Al Munba'its, dari Zaid bin Khalid Al Juhani bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ditanya oleh seseorang tentang barang temuan, maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kenalilah tali pengikatnya, atau Beliau berkata; kantong dan tutupnya, kemudian umumkan selama satu tahun, setelah itu pergunakanlah. Jika datang pemiliknya maka berikanlah kepadanya". Orang itu bertanya: "Bagaimana dengan orang yang menemukan unta?" Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam marah hingga nampak merah mukanya, lalu berkata: "apa urusanmu dengan unta itu, sedang dia selalu membawa air di perutnya, bersepatu sehingga dapat hilir mudik mencari minum dan makan rerumputan, maka biarkanlah dia hingga pemiliknya datang mengambilnya". Orang itu bertanya lagi tentang menemukan kambing, maka Beliau menjawab: "Itu untuk kamu atau saudaramu atau serigala".(HR. Bukhari) Gadai rasulullah Dari Umayyah bin shafwan bin umayyah, dari ayahnya, bahwa waktu perang Hunain, Rasulullah meminjam beberapa buah baju perang yang terbuat dari besi. Dia bertanya,”Apakah barang-barang ini engkau ambil begitu saja?”beliau menjawab,”Itu merupakan pinjaman yang tentu saja ada jaminanannya.” Lalu sebagian baju perang itu ada yang hilang. Melihat hal ini beliau menegaskan tentang jaminannnya dan tetap akan diganti. Saat itulah Shafwan berkata,”Hari ini aku telah masuk Islam dan aku merasa senang” (HR. Ahmad) Dalam persiapan menghadapi peperangan Hunain, disebutkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bahwa Sofwan bin Umaiyah punya sejumlah baju bersi dan senjata. Kemudian Rasulullahs aw mengutus utusan kepadanya, waktu itu Sofwan bin Umaiyah masih musyrik, untuk meminta baju-baju besi dan senjata tersebut. Lalu Sofwan bertanya :“Apakah dengan cara gasap wahai Rasulullah ?“ Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam menjawab :“Bahkan sebagai barang pinjaman. Ia terjamin hingga kami menunaikannya kepada kamu.“ Akhirnya Sofwan meminjamkannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam Shallallahu ‘alaihi Wasallam seratus baju besi dan sejumlah senjata. (Siroh Al Buthy) Rasulullah Membeli Tanah Bani Najjar Bukhari di dalam sanadnya meriwayatkan dari Anas bin Malik ra, bahwa ketika masuk wkatu shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam melaksanakan shalat di tempat penambatan kambing. Setelah itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memerintahkan pembangunan masjid. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memanggil para tokoh Bani Najjar dan berkata kepada mereka,“Wahai Bani Najjar, berapakah harga tanah kalian ini ? Mereka menjawab,“ Demi Allah kami tidak menghendaki harganya kecuali dari Allah swt.“ Selanjutnya Anas bin Malik mengatkaan,“Di tanah itu terdapat beberapa kuburan kaum Musyrikin, puing-puing bangunan tua dan beberapa pohon kurma. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memerintahkan agar kuburan tersebut dipindahkan , pohon-pohonnya ditebang dan puing-puingnya diratakan.“. Anas bin Malik melanjutkan,“ Kemudian mereka menata batang-batang kurma itu sebagai kiblat masjid“. Dan sambil merampungkan pembangunan masjid bersama mereka , Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam mengucapkan do‘a : „Allahumma, ya Allah! Tidak ada kebaikan kecuali kebaikan Akhirat, maka tolonglah kaum Anshar dan Muhajirin.“(Siroh Al Buthy) Menepati Perjanjian Mengenai Abu Jandal Pada mulanya kaum Muslimin merasa keberatan menyetujui Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam dalam menerima syarat yang diajukan oleh Suhail bin Amer : „Jika ada seorang dari Quraisy datang kepada Muhammad tanpa ijin walinya maka dia (Muhammad) harus mengembalikan kepada mereka dan barang siapa di antara pengikut Muhammad datang kepada Quraisy maka dia tidak akan dikembalikan.“ Mereka semakin merasa keberatan ketika Abu Jandal (anak Suhail bin Amer) datang melarikan diri dari kaum Musyrikin dalam keadaan terborgol rantai besi, kemudian bapaknya beridri menangkapnya seraya berkata :“Wahai Muhammad , permasalahan sudah kita sepakati sebelum anak ini datang.“ Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam menyerahkan Abu Jandal kepada Quraisy, kendatipun Abu Jandal berteriak-teriak dengan suara keras :“Wahai kaum Muslimin ! Apakah aku diserahkan kembali kepada kaum Musyrikin yang akan merongrong agamaku?“ Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda kepada Abu Jandal : „Wahai Abu Jandal, bersabarlah dan berserah dirilah (Kepada Allah)! Sesungguhnya Allah pasti memberikan jalan keluar kepada kamu dan orang-orang ynag tertindas. Kita telah membuat perjanjian dengan mereka dan kita tidak boleh mengkhianati mereka.“(Siroh Al Buthy) Pengakuan Kejujuran Rasul Kredibilitas Muhammad diakui 2x lipat Tatkala Abu Talib mengetahui, bahwa Khadijah sedang menyiapkan perdagangan yang akan dibawa dengan kafilah ke Syam, ia memanggil kemenakannya - yang ketika itu sudah berumur duapuluh lima tahun. "Anakku," kata Abu Talib, "aku bukan orang berpunya. Keadaan makin menekan kita juga. Aku mendengar, bahwa Khadijah mengupah orang dengan dua ekor anak unta. Tapi aku tidak setuju kalau akan mendapat upah semacam itu juga. Setujukah kau kalau hal ini kubicarakan dengan dia?" "Terserah paman," jawab Muhammad. Abu Talibpun pergi mengunjungi Khadijah: "Khadijah, setujukah kau mengupah Muhammad?" tanya Abu Talib. "Aku mendengar engkau mengupah orang dengan dua ekor anak unta Tapi buat Muhammad aku tidak setuju kurang dari empat ekor." "Kalau permintaanmu itu buat orang yang jauh dan tidak kusukai, akan kukabulkan, apalagi buat orang yang dekat dan kusukai." Demikian jawab Khadijah. Kembalilah sang paman kepada kemenakannya dengan menceritakan peristiwa itu. "Ini adalah rejeki yang dilimpahkan Tuhan kepadamu," katanya. Setelah mendapat nasehat paman-pamannya Muhammad pergi dengan Maisara, budak Khadijah. Dengan mengambil jalan padang pasir kafilah itupun berangkat menuju Syam, dengan melalui Wadi'l-Qura, Madyan dan Diar Thamud serta daerah-daerah yang dulu pernah dilalui Muhammad dengan pamannya Abu Talib tatkala umurnya baru duabelas tahun. (Siroh Muhammad Husain Haikal) Ibnu Ishaq berkata,”Khadiah binti Khuwailid adalah seorang saudagar wanita keturunan bangShallallahu ‘alaihi Wasallaman dan kaya raya. Dia mempekerjakan tenaga laki-laki dan melakukan sistem bagi hasil terhadap harta (modal) tersebut sebagai keuntungan untuk mereka nantinya. Kabilah Quraisy dikenal sebagai kaum pedagang handal. Tatkala sampai ke telinga Khadijah perihal kejujuran bicara, amanah dan akhlak Rasulullah yang mulia, dia mengutus seseorang untuk menemuinya dan menawarkan kepadanya untuk memperdagangkan harta miliknya tersebut ke negeri Syam dengan imbalan paling istimewa yang tidak pernah diberikan kepada para pedagang lainnya, dengan didampingi seorang budak laki-laki milik khadijah bernama Maisarah. Beliau menerima tawaran tersebut dan berangkat dengan barang-barang dagangan Khadijah bersama budak tersebut hingga sampai di negeri Syam.” (Siroh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri) Pengakuan Abu Jahal Abu Jahal pernah berkata,”Wahai Muhammad! Sesungguhnya kami tidak pernah mendustakanmu akan tetapi kami mendustakan apa yang engkau bawa.” Lalu turunlah ayat,”Sebenarnya mereka bukan mendustakanmu, tetapi orang-orang yang zhalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.”(QS. Al An’am:33) (Siroh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri) Pengakuan Abdullah bin Salam Pada tahun 622 Muhammad s.a.w meninggalkan Mekkah menuju Yastrib. Ketika sampai di Yastrib dan berhenti di Quba, Seseorang dengan tergesa-gesa memasuki kota, berseru mengabarkan kedatangan Muhammad s.a.w. Saat itu saya sedang mengerjakan sesuatu diatas pohon kurma. Bibi saya Khalidah binti al-Harith sedang duduk dibawah pohon. Begitu mendengar kabar itu, saya berteriak: "Allahu Akbar! Allahu Akbar!" waktu bibi saya mendengar teriakan takbir saya itu, dia mengecam "Semoga Tuhan menyusahkan kamu. Demi Tuhan kalau seandainya yang kamu dengar itu berita kedatangan Musa pasti kamu tidak akan sesenang itu". "Bibi, Dia itu sungguh utusan Tuhan. Saudara Musa dan mengikuti agamanya, dia diutus untuk misi yang sama dengan Musa". Dia terdiam lama kemudian berkata "Apakah dia itu nabi yang pernah kamu katakan pada kami yang akan membenarkan kebenaran dakwah para nabi terdahulu? dan menggenapi firman Tuhan?", Jawab saya "Ya". Tanpa ragu-ragu atau menunda saya pergi untuk menemui nabi. Saya melihat kerumunan orang banyak di pintu rumahnya, saya lewati kerumunan itu hingga berada didekatnya. Ucapan pertama yang saya dengar darinya: "Wahai saudara-saudara sekalian, Tebarkan salam, Beri makan mereka yang kelaparan, Dirikanlah salat malam hari saat orang terlelap, maka kalian akan masuk surga dalam damai". Saya menghampiri dia, dari dekat mengamati dirinya dengan seksama dan diyakinkan oleh wajahnya bukanlah seorang pendusta, lalu saya mendekatinya dan menyatakan keyakinan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah. Nabi menatap saya dan bertanya: "Siapa namamu?" jawab saya: "Al Husayn ibn Sailam", "Sekarang namamu diganti jadi Abdullah bin Salam" katanya, memberikan nama baru buat saya. "Ya saya setuju, Abdullah bin Salam (memang seharusnya begitu). Demi Dia yang telah mengutus engkau dalam kebenaran, saya tidak berniat memiliki nama lain setelah hari ini". Saya pulang kerumah dan memperkenalkan Islam kepada istri, anak-anak dan semua orang di rumah termasuk bibi Khalidah yang sudah lanjut usia tapi saya meminta mereka menyembunyikan ke-Islaman kami dari orang-orang Yahudi sampai saya mengizinkan dan mereka setuju. Kesaksian Utbah Ketika Menemui Sahabat sahabatnya. lbnu Ishaq berkata, “Setelah itu, Utbah pulang menemui sahabat-sahabatnya. Sebagian di antara mereka berkata kepada sebagian yang lain, Kami bersumpah dengan‘asma Allah,sungguh, Abu Al-Walid datang ke tempat kalian dengan wajah yang berbeda dengan wajah ketika ia berangkat.’ Ketika Utbah telah duduk, mereka berkata kepadanya, ‘Apa yang ada dibelakangmu, wahai Abu Al-Walid?’ Utbah menjawab, ‘Demi Allah,sungguh aku baru saja mendengar perkataan yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Demi Allah,perkataan tersebut bukan syair. Bukan sihir. Bukan dukun; Hai orang-orang Quraisy, taatlah kepadaku, serahkan persoalan Quraisy kepadaku, dan biarkan orang tersebut (Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam) dan apa yang ia bawa, dan tinggalkan dia! Demi Allah, ucapannya yang aku dengar tadi pada suatu saat akan menjadi berita besar. Jika saja ucapannya tersebut dimiliki orang-orang Arab, sungguh mereka sudah merasa cukup dengannya tanpa kalian. Jika ia berhasil mengalahkan semua orang-orang Arab, maka kekuasaannya ialah kekuasaan kalian,dan kejayaannya adalah kejayaan kalian, kemudian kalian menjadi manusia yang paling berbahagia dengannya.’ Mereka berkata, ‘Demi Allah, dia telah menyihirmu dengan mulutnya.’ Utbah berkata, ‘Ini pendapatku tentang dia. Oleh karena itu, kerjakan apa saja yang kalian inginkan!” Muhammad tidak akan berdusta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam tidak pernah punya niat untuk berdusta kepada manusia dan Allah : “Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pedang dia pada tangan kanannya. Kemudian sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami) dari pemotongan urat nadi itu.“ QS al-Haaqqah : 44-47 (Sirah Al Buthy) Pengakuan 3 tokoh quraisy Suatu ketika, tiga orang tokoh Quraisy berkumpul. Masing-masing dari mereka ternyata telah mendengarkan al-Qur’an secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui oleh dua temannya yang lain, namun kemudian rahasia itu tersingkap. Salah seorang dari mereka bertanya kepada Abu Jahal –yang merupakan salah seorang dari ketiga orang tersebut- : “Bagaimana pendapatmu mengenai apa yang engkau dengar dari Muhammad tersebut?” “Apa yang telah aku dengar? Memang kami telah berselisih dengan Bani ‘Abdi Manaf dalam persoalan derajat sosial; manakala mereka makan, kamipun makan; mereka menanggung sesuatu, kamipun ikut menanggungnya; mereka memberi, kamipun memberi hingga akhirnya kami sejajar diatas tunggangan yang sama (setara derajatnya-red). Kami ibarat dua kuda perang yang sedang bertaruh. Lalu tiba-tiba mereka berkata: ‘kami memiliki nabi yang membawa wahyu dari langit!’. Kapan kami mengetahui hal ini? Demi Allah! kami tidak akan beriman sama sekali kepadanya dan tidak akan membenarkannya”. Abu Jahal pernah berkata: “wahai Muhammad! sesungguhnya kami tidak pernah memdustakanmu akan tetapi kami mendustakan apa yang engkau bawa”. Lalu turunlah ayat: “Sebenarnya mereka bukan mendustakanmu, tetapi orang-orang yang zhalim itu mengingkari ayat-ayat Allah”. (Q,.s.al-An’âm: 33).(Sirah Al Mubarakfury) Musyawarah Quraisy Untuk Menjuluki Muhammad Melihat hal ini, kaum Quraisy merasa gerah dan pemandangan semacam ini amat menyakitkan mereka. Sidang Majlis membahas upaya menghalangi Jemaah Haji agar tidak mendengarkan Dakwah Muhammad. Sepanjang hari-hari tersebut, ada hal lain yang membuat kaum Quraisy gundah gulana; yaitu bahwa belum beberapa hari atau bulan saja dakwah jahriyyah tersebut berlangsung hingga (tak terasa) mendekati musim haji. Dalam hal ini, kaum Quraisy mengetahui bahwa delegasi Arab akan datang ke negeri mereka. Oleh karena itu, mereka melihat perlunya merangkai satu pernyataan yang nantinya (secara sepakat) mereka sampaikan kepada delegasi tersebut perihal Muhammad agar dakwah yang disiarkannya tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap jiwa-jiwa mereka (delegasi Arab tersebut). Maka berkumpullah mereka di rumah al-Walid bin al-Mughirah untuk membicarakan satu pernyataan yang tepat dan disepakati bersama tersebut. Lalu al-Walid berkata:” Bersepakatlah mengenai perihalnya (Muhammad) dalam satu pendapat dan janganlah berselisih sehingga membuat sebagian kalian mendustakan pendapat sebagian yang lain dan sebagian lagi menolak pendapat sebagian yang lain”. Mereka berkata kepadanya: “Katakan kepada kami pendapatmu yang akan kami jadikan acuan!”. Lalu dia berkata: “justru kalian yang harus mengemukakan pendapat kalian biar aku dengar dulu”. Mereka berkata: “(kita katakan) dia (Muhammad) adalah seorang dukun”. Dia menjawab: “Tidak! Demi Allah dia bukanlah seorang dukun. Kita telah melihat bagaimana kondisi para dukun sedangkan yang dikatakannya bukan seperti komat-kamit ataupun sajak (mantera-mantera) para dukun”. Mereka berkata lagi: “kita katakan saja; dia seorang yang gila”. Dia menjawab: “Tidak! Demi Allah! dia bukan seorang yang gila. Kita telah mengetahui esensi gila dan telah mengenalnya sedangkan yang dikatakannya bukan dalam kategori ketercekikan, kerasukan ataupun was-was sebagaimana kondisi kegilaan tersebut”. Mereka berkata lagi: “kalau begitu kita katakan saja; dia adalah seorang Penya’ir’ “. Dia menjawab: “Dia bukan seorang Penya’ir. Kita telah mengenal semua bentuk sya’ir; rajaz, hazaj, qaridh, maqbudh dan mabsuth-nya sedangkan yang dikatakannya bukanlah sya’ir”. Mereka berkata lagi: “Kalau begitu; dia adalah Tukang sihir”. Dia menjawab: “Dia bukanlah seorang Tukang sihir. Kita telah melihat para tukang sihir dan jenis-jenis sihir mereka sedangkan yang dikatakannya bukanlah jenis nafts (hembusan) ataupun ‘uqad (buhul-buhul) mereka”. Mereka kemudian berkata: “kalau begitu, apa yang harus kita katakan?”. Dia menjawab: “Demi Allah! sesungguhnya ucapan yang dikatakannya itu amatlah manis dan mengandung sihir (saking indahnya). Akarnya ibarat tandan anggur dan cabangnya ibarat pohon yang rindang. Tidaklah kalian merangkai sesuatupun sepertinya melainkan akan diketahui kebathilannya. Sesungguhnya, pendapat yang lebih dekat mengenai dirinya adalah dengan mengatakan bahwa dia seorang Tukang sihir yang mengarang suatu ucapan berupa sihir yang mampu memisahkan antara seseorang dengan bapaknya, saudaranya dan isterinya. Mereka semua menjadi terpisah lantaran hal itu”. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa tatkala al-Walid menolak semua pendapat yang mereka kemukakan kepadanya; mereka berkata kepadanya: “kemukakan kepada kami pendapatmu yang tidak ada celanya!”. Lalu dia berkata kepada mereka: “beri aku kesempatan barang sejenak untuk memikirkan hal itu!”. Lantas al-Walid berfikir dan menguras fikirannya hingga dia dapat menyampaikan kepada mereka pendapatnya tersebut sebagaimana yang disinggung diatas. Dan mengenai al-Walid ini, Allah Ta’ala menurunkan enam belas ayat dari surat al-Muddatstsir, yaitu dari ayat 11 hingga ayat 26; dipertengahan ayat-ayat tersebut terdapat gambaran bagaimana dia berfikir keras, Dia Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya) [18]. maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan,[19]. kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, [20]. kemudian dia memikirkan, [21]. sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, [22]. kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, [23]. lalu dia berkata:”(al-Qur’an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), [24]. ini tidak lain hanyalah perkataan manusia”. [25]. Setelah majlis menyepakati keputusan tersebut, mereka mulai melaksanakannya; duduk-duduk di jalan-jalan yang dilalui orang hingga delegasi Arab datang pada musim haji. Setiap ada orang yang lewat, mereka peringatkan dan singgung kepadanya perihal Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam . Sedangkan yang dilakukan oleh Rasululllah Shallallâhu ‘alaihi wasallam manakala sudah datang musimnya adalah mengikuti dan membuntuti orang-orang sampai ke rumah-rumah mereka, di pasar ‘Ukazh, Majinnah dan Dzul Majaz. Beliau mengajak mereka ke jalan Allah namun Abu Lahab yang selalu membuntuti di belakang beliau memotong setiap ajakan beliau Shallallâhu ‘alaihi wasallam dengan berbalik mengatakan kepada mereka: “jangan kalian ta’ati dia karena sesungguhnya dia adalah seorang Shabi’ (orang yang mengikuti syari’at nabi-nabi zaman dahulu atau orang yang menyembah bintang atau menyembah dewa-dewa) lagi Pendusta”. Akhir yang terjadi, justru dari musim itu delegasi Arab banyak mengetahui perihal Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam sehingga namanya menjadi buah bibir orang di seantero negeri Arab. (Sirah Al Mubarakfury)

Nasab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam

Nama Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam Nasab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam Nasab Rasulullah Nasab beliau tersebut adalah na...